Unsur-unsur Bentuk Puisi: Sarana Retorika, Larik, Bait, dan Tipografi

>> 28/04/14

Yuni Budiawati*


Unsur-unsur bentuk dalam puisi mengenai unsur bunyi, kata, bahasa kiasan/majas, citraan serta pengertian mengenai unsur puisi telah dijelaskan pada makalah sebelumnya (Primadeka, Makalah, 2014). Dan telah dijelaskan pula sebelumnya bahwa unsur menurut KBBI (seperti dikutip Primadeka, Makalah, 2014)  adalah bagian terkecil dari suatu benda.

Pada makalah ini akan membahas mengenai unsur bentuk lainnya yang terdapat dalam puisi yaitu sarana retorika, larik, bait, dan tipografi. Untuk penjelasan lebih lanjut simak makalah di bawah ini.

UNSUR SARANA RETORIKA

Menurut Alternbernd (seperti dikutip Sukamti Suratidja, 1990: 241), bahasa puisi sebagai salah satu unsur dalam bangun struktur karya memiliki bagian-bagian antara lain: diksi, citraan, bahasa kiasan, dan sarana retorika.

Bahasa retorika merupakan bahasa kepuitisan berupa muslihat pikiran. Bahasa retorika ini banyak digunakan oleh para penyair dalam menciptakan sajaknya. Sebenarnya digunakan untuk membuat efisien bahasa namun terkadang kata-kata yang digunakan itu berkonotasi berlebihan dan penuh dengan kata yang muluk (WS, 2012: 115).

Menurut Pradopo (2012: 93), sarana retorika adalah jenis atau bentuk gaya dan cara tersendiri yang digunakan oleh pengarang dalam melahirkan pikirannya.

Jenis corak sarana atau bahasa retorika tiap penyair itu ditentukan sesuai dengan gaya sajaknya, alirannya, paham serta konvesi dan konsepsi estetikanya begitu juga yang membedakan bahasa retorika yang digunakan tiap periode. Sehingga yang paling dominan dalam penggunaan sarana retorika adalah tautologi, pleonasme, keseimbangan, retorik retisense, paralelisme, dan enumerasi (penjumlahan). Sarana retorika yang sering digunakan Pujangga Baru adalah tauotologi, pleonasme, keseimbangan, retorik retisense, pararelisme, dan enumerasi, karena sesuai dengan konsepsi estetika yang menghendaki keseimbangan simetris dan juga aliran romantik yang penuh curahan perasaan (Pradopo, 2012: 94). Sedangkan sarana retorika yang tidak banyak digunakan dalam puisi-puisi Pujangga Baru, di antaranya: paradoks, hiperbola, pertanyaan retorik, klimaks, dan kiasmus (Ryuliana, https://ryuliana111.wordpress.com/tag/ringkasan-buku-pengkajian-puisi/, akses 2 April 2014).

Angkatan 45, sesuai dengan aliran realisme dan ekspresionisme banyak dipergunakan sarana retorika yang bertujuan intensitas dan ekspresivitas. Maka sarana retorika yang sering mereka gunakan adalah hiperbola, litotes, tautologi, dan penjumlahan (Pradopo, 2012: 94).
 
Sarana retorika yang banyak digunakan penyair (Susanto, http://bagawanabiyasa.wordpress.com/2010/10/24/majas-atau-gaya-bahasa/, akses 5 April 2014):
  1. Tautologi
    Tautologi adalah sarana retorika yang menyatakan hal atau keadaan dua kali dalam satu kalimat, maksudnya supaya arti kata atau keadaan itu lebih mendalam bagi pembaca atau pendengar. Dan terkadang kata yang digunakan bersinonim.

    Contoh:
    Bukan, bukan, bukan itu maksudnya saya hanya ingin membersihkan bahumu.

    Dalam kalimat tersebut ada pengulangan kata bukan tiga kali, di mana si penyair ingin menekankan pada si pembaca supaya tidak salah paham.

    Contoh:
    Kita Sang Pecinta

    Kita di atas bumi yang sama
    Hanya jiwa menolak hidup
    Kita di bawah langit yang sama
    Hanya tangan tak jua gapai

    Aku menari ikuti angan
    Susuri sungai bawa jernih kehidupan
    Lalu berdiri di perbatasan
    Menghadang, menantang, melawan
    ... dst.
                                 (Yuni Budiawati, Puisi Matahari: 2014)
    Dalam puisi tersebut pada bait kedua larik keempat, dua kata yang digarisbawahi tersebut merupakan penggambaran yang sama dan bersinonim, dengan maksud si penyair untuk penegasan pada isi puisi tersebut.
  2. Pleonasme
    Sarana retorika yang sepintas seperti tautologi, tetapi kata yang kedua sebenarnya telah tersimpul dalam kata yang pertama. Menambahkan kata yang sebenarnya telah jelas atau tidak diperlukan.

    Contoh:
    Semua murid yang di atas saat malam turun ke bawah untuk makan malam.

    Pada kalimat tersebut ada keterangan yang sebenarnya tidak diperlukan karena sudah jelas seperti turun ke bawah.
  3. Enumerasi (Penjumlahan)
    Sarana retorika yang berupa pemecahan suatu hal atau keadaan menjadi beberapa bagian dengan tujuan agar hal atau keadaan itu lebih jelas dan nyata bagi pembaca atau pendengar.

    Contoh I:
    Hampa

    Sepi di luar. Sepi menekan-mendesak
    Lurus kaku pepohonan. Tak bergerak
    Sampai ke puncak. Sepi memagut,
    Tak satu kuasa melepas-renggut
    Segala menanti. Menanti. Menanti
    Sepi 
    ... dst
                              (Chairil Anwar, Deru Campur Debu: 1951)
    Contoh II:
    Angin semilir perlahan, langit biru terlihat ringan, lazuardi cerah nila kandi, bulan pun bersinar kembali, sedang aku, cuma duduk sambil melamun. Memikirkan jantung hati, yang entah ke mana tak tahu rimbanya.
    Dalam puisi dan kalimat di atas menunjukkan gambaran suatu situasi di mana penggambaran keadaan tersebut dijelaskan secara berurutan sehingga memperjelas pembaca atas situasi yang digambarkan oleh sang penyair.
  4. Retorika Retisense
    Sarana ini mempergunakan titik-titik banyak untuk mengganti perasaan yang tak terungkapkan.

    Contoh:
    Katanya Jendela

    Matanya tak bisa disembunyikan
    Terus tatap, lirik tetap
    Meneropong rupa ragamu
    Lewat jendela yang katanya bisa menelanjangimu

    Tiupanku ingin merayunya
    Debu coba merasukinya
    Ia bagai beringin yang katanya kuat diterpa angin
    Kokoh dan yakin

    Katanya, ia selalu memujimu
    Katanya, kaukebanggaannya
    Katanya, kau itu bla bla bla bla
    Kau itu ..., katanya
    ... dst
                              (Herry Oktav, Puisi Jendela: 2014)
    Dalam puisi di atas pada larik terakhir di bait ketiga "Kau itu..., katanya" dalam larik tersebut menunjukkan retorika retisense yang berarti si penyair memiliki perasaan yang tak terungkapkan dalam larik tersebut sehingga menggunakan titik-titik.
  5. Paralelisme
    Mengulang isi kalimat yang maksud tujuannya serupa. Kalimat yang berikut hanya dalam satu atau dua kata berlainan dari kalimat yang mendahului.

    Paralelisme adalah pengungkapan dengan menggunakan kata, frasa, atau klausa yang sejajar. Pengulangan kata-kata untuk menegaskan yang terdapat pada puisi. Bila kata yang diulang pada awal kalimat dinamakan anaphora, dan bila terdapat pada akhir kalimat dinamakan epiphora.

    Contoh:
    Hujan

    ...
    Kadang kaubawa musibah
    Kadang kaubawa berkah
    Kadang kaukirim suka
    Atau kautinggalkan duka
    ... dst.
                 (Herry Oktav, Puisi Hujan: 2014)
    Dalam larik pertama dan kedua ada dua kalimat yang sama, namun kata di larik kedua terdapat kata yang berbeda untuk menegaskan larik pertama.
  6. Paradoks
    Paradoks adalah sarana retorika yang menyatakan sesuatu secara berlawanan, tetapi sebetulnya tidak bila sungguh-sungguh dipikir atau dirasakan.

    Contoh I:
    Betapa banyak orang yang dalam kesendiriannya merasa kesepian di kota sehiruk-pikuk Jakarta.

    Contoh II:
    Ah... Jaman Sekarang

    Di sudut kota anak muda bergerombol dan kongko-kongko
    Dandan menor ala tante hebring padahal bocah
    Tato sana tindik sini
    Keren katanya, padahal sekujur tubuh sakit minta ampun 
    Jagoan katanya, padahal sekali jotos langsung keleper
    Ah... jaman sekarang
    ... dst.
                                   (Yuni Budiawati, Puisi Penjajahan: 2014)
    Dalam kalimat dan juga puisi di atas terdapat beberapa keadaan yang mengandung pertentangan dengan kalimat sebelumnya, seperti pada contoh pertama banyak orang merasa kesepian di tengah hiruk pikuk Jakarta, kemudian di contoh kedua pada larik kedua, keempat dan kelima menggambarkan orang yang berdandan seperti orang dewasa padahal dirinya anak kecil, dan juga menggambarkan orang yang memakai tato dan tindik di tubuhnya menandakan dia orang yang keren padahal sekujur tubuhnya sakit atau yang merasa dirinya jagoan padahal saat ada yang memukulnya dia langsung pingsan.
  7. Hiperbola
    Hiperbola adalah sarana retorika yang melebih-lebihkan suatu hal atau keadaan atau gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang berlebih-lebihan baik jumlah, ukuran, ataupun sifatnya dengan tujuan untuk menekan, memperhebat, meningkatkan kesan dan pengaruhnya.

    Contoh:
    Sajak Kopi

    Kita sudah sepakat berdua
    untuk menyeduh kopi dalam gelas yang sama
    gelas putih polos tak bermotif
    yang kita pilih saat berbelanja di pasar sana

    Saat itu penjualnya berkata, "Tuan, gelas ini bukan sembarang gelas.
    Gelas ini dibuat dengan sejuta rasa."
    Kita berdua mengangguk tunduk
    Diam dalam keyakinan yang dalam, percaya
    ... dst.
                                              (Oky Primadeka, Puisi Kopi: 2014)
    Dalam puisi tersebut pada larik kedua di bait kedua, ada kalimat Gelas ini dibuat dengan sejuta rasa. Larik tersebut mengandung majas hiperbola dengan menggunakan kata sejuta rasa yang menunjukan hal yang berlebihan.
  8. Pertanyaan Retorik
    Ungkapan pertanyaan yang jawabannya telah terkandung di dalam pertanyaan tersebut. Gaya bahasa penegasan ini menggunakan kalimat tanya-tak-bertanya. Sering menyatakan kesangsian atau bersifat mengejek.

    Contoh:
    Cermin Mimi Aya

    Apa kabarmu, sayang, masihkah kauingat nasihatku
    waktu kutitipkan cermin kesayanganku padamu?
    Bagaimana rasanya becermin?
    Apakah kau telah mengetahui dirimu sendiri,
    saat cermin itu tiba-tiba retak saat kautatap?
    ... dst.
                                (Faliq Ayken, Puisi Cermin: 2014)
    Dalam bait puisi tersebut ada beberapa pertanyaan yang dikemukakan, namun pertanyaan tersebut tidaklah membutuhkan jawaban hanya membuat pembaca berpikir atau merenungi makna di balik pertanyaan itu.
  9. Klimaks
    Klimaks adalah gaya bahasa yang mengandung penekanan pada kalimat-kalimat selanjutnya, sehingga maksud yang dituju dapat disimpulkan pada kalimat terakhir. Contoh (http://tribute-to-wiji-thukul.blogspot.com/2012/03/sukmaku-merdeka-puisi-puisi-wiji-thukul.html, akses 7 April 2014):
    Sukmaku Merdeka
    Wiji Thukul

    Tidak tergantung kepada Departemen Tenaga Kerja
    Semakin hari semakin nyata nasib di tanganku
    Tidak diubah oleh siapapun
    Tidak juga akan dirubah oleh Tuhan Pemilik Surga
    Apakah ini menyakitkan? entahlah!
    Aku tak menyumpahi rahim ibuku lagi
    Sebab pasti malam tidak akan berubah menjadi pagi
    Hanya dengan memaki-maki

    Waktu yang diisi keluh akan berisi keluh
    Waktu yang berkeringat karena kerja akan melahirkan
    Serdadu-serdadu kebijaksanaan
    Biar perang meletus kapan saja
    Itu bukan apa-apa
    Masalah nomer satu adalah hari ini
    Jangan mati sebelum dimampus takdir

    Sebelum malam mengucap selamat malam
    Sebelum kubur mengucapkan selamat datang
    Aku mengucap kepada hidup yang jelata
    M E R D E K A ! !
    Dalam puisi tersebut, mengandung klimaks di akhir larik pada bait terakhir dengan kata merdeka yang ditulis kapital seluruhnya dan dengan tanda seru dua kali.
  10. Antiklimaks
    Antiklimaks merupakan antonim dari klimaks adalah gaya bahasa berupa kalimat terstruktur dan isinya mengalami penurunan kualitas, kuantitas intensitas. Gaya bahasa ini dimulai dari puncak makin lama makin ke bawah. Dengan demikian, antiklimaks adalah gaya bahasa yang menyatakan beberapa hal berurutan semakin lama semakin menurun. Contoh (http://macapat.wordpress.com/2006/06/05/hujan-bulan-juni-sapardi-djoko-damono/, akses 7 April 2014):
    Hujan Bulan Juni
    Sapardi Djoko Damono

    tak ada yang lebih tabah
    dari hujan bulan Juni
    dirahasiakannya rintik rindunya
    kepada pohon berbunga itu

    tak ada yang lebih bijak
    dari hujan bulan Juni
    dihapusnya jejak-jejak kakinya
    yang ragu-ragu di jalan itu

    tak ada yang lebih arif
    dari hujan bulan Juni
    dibiarkannya yang tak terucapkan
    diserap akar pohon bunga itu
    Inti dari puisi Damono adalah menggambarkan hujan di bulan Juni, sedangkan larik-larik selanjutnya adalah tambahan keterangan untuk penggambaran hujan bulan Juni.
  11. Kiasmus
    Kiasmus ialah gaya bahasa yang berisi perulangan dan sekaligus merupakan inversi atau pembalikan susunan antara dua kata dalam satu kalimat. Majas kiasmus merupakan bentuk majas perulangan yang isinya mengulang atau repetisi sekaligus merupakan inversi hubungan antara dua kata dalam satu kalimat (Ducrot dan Todorov, 1981: 277).

    Contoh:
    Yang kaya merasa dirinya miskin, sedang yang miskin mengaku dirinya kaya. Sudah biasa dalam kehidupan sehari-hari, orang pandai ingin disebut bodoh, namun banyak orang bodoh mengaku pandai. Ia menyalahkan yang benar dan membenarkan yang salah.

    Dalam kalimat yang diberi garis bawah di atas merupakan contoh gaya bahasa kiasmus, yaitu kata miskin-kaya dan kata bodoh-pandai.
UNSUR LARIK

Larik atau baris adalah kalimat yang terdapat dalam puisi (Sugianto, http://sugikmaut.blog.com/?p=12, akses 2 April 2014). Sedangkan larik memiliki pengertian yang berbeda dengan kalimat dalam prosa, larik bisa hanya berupa satu kata saja, bisa frasa, bisa pula seperti sebuah kalimat. Dalam puisi lama jumlah larik dalam tiap baitnya empat buah, namun di dalam puisi baru atau kontemporer jumlah larik dalam setiap bait tidak ditentukan (Intama, http://riniintama.wordpress.com/unsur-unsur-puisi/, akses 2 April 2014). Dalam puisi lama tiap larik terdapat 8-12 suku kata.

Terkadang banyak yang menyamakan antara larik dan kalimat, seperti yang disebutkan sebelumnya bahwa tidak semua larik berupa kalimat tapi ada beberapa perbedaan di antara keduanya, yaitu seperti kutipan di bawah ini (Andik, http://andikws.blogspot.com/2011/08/puisi.html#more, akses 2 April 2014):
  • Kalimat selalu diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan titik (.), tanda tanya (?), atau tanda seru (!), dan di dalamnya juga disertakan tanda baca yang lain seperti tanda koma (,), titik dua (:), tanda pisah (-) dan spasi (Hasan dkk, 2003: 311). Sedangkan larik tidak harus selalu diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik.
  • Kalimat harus mengandung unsur subjek, predikat, keterangan, objek atau kata pelengkap, kalau tidak memiliki unsur subjek dan unsur predikat maka pernyataan itu bukanlah kalimat (Zaenal dan Amran, 2009: 66). Larik tidak harus menggunakan unsur subjek predikat dan sebagainya, terkadang hanya mencakup keterangan atau predikat saja.
  • Dalam satu kalimat biasanya memiliki satu maksud, sedangkan dalam satu larik terkadang memiliki makna yang lebih dari satu.
Contoh larik dalam puisi lama (http://id.wikipedia.org/wiki/Puisi, akses 5 Februari 2014), seperti pantun di bawah ini:
Kalau ada jarum patah
Jangan dimasukkan ke dalam peti
Kalau ada kataku yang salah
Jangan dimasukkan ke dalam hati
Contoh larik dalam puisi baru (http://id.wikipedia.org/wiki/Puisi, akses 5 Februari 2014):
Aku bertanya
tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur jidat penyair-penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi
di sampingnya,
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan,
termangu-mangu di kaki dewi kesenian.
(WS Rendra)
Larik atau baris pada puisi juga merupakan wadah untuk menyatukan makna dan ide penyair dalam puisinya. Sehingga antara larik yang satu dengan yang lain saling berkaitan dan memiliki makna yang saling melengkapi.

UNSUR BAIT

Bait merupakan larik yang tersusun harmonis. Pada bait inilah biasanya ada kesatuan makna antara larik-larik (http://riniintama.wordpress.com/unsur-unsur-puisi/,  akses 2 April 2014).

Seperti halnya larik, banyak yang salah mengartikan pula bahwa bait sama dengan paragraf, padahal banyak perbedaan di antara keduanya. Paragraf adalah kumpulan dari beberapa kalimat yang isinya bisa langsung dipahami tanpa perlu adanya penafsiran lagi, sedangkan kumpulan beberapa larik dalam satu bait tidak dapat dipahami begitu saja maknanya perlu ada penafsiran lebih lanjut untuk mendapatkan makna dalam satu bait tersebut (Andik, http://andikws.blogspot.com/2011/08/puisi.html#more, akses 2 April 2014). Dan setiap orang yang membaca bait tersebut mungkin saja memiliki pemahaman yang berbeda dengan orang lain. Dalam satu bait pun tidak selalu terdiri dari beberapa larik, ada beberapa puisi yang dalam satu bait hanya ada satu larik puisi, seperti puisi Subagio Sastrowardoyo yang berjudul Kampung, dalam puisi tersebut ada 7 bait di mana pada bait ke-6 hanya terdapat satu larik saja. Contoh dapat dilihat di bawah ini (http://mainsastra.blogspot.com/2012/03/kumpulan-puisi-subagio-sastrowardoyo.html, akses 7 April 2014):
Kampung
Subagio Sastrowardoyo

Kalau aku pergi ke luar negeri, dik
karena hawa di sini sudah pengap oleh
pikiran-pikiran beku.

Hidup di negeri ini seperti di dalam kampung
di mana setiap orang ingin bikin peraturan
mengenai lalu lintas di gang, jaga malam dan
daftar diri di kemantren.

Di mana setiap orang ingin jadi hakim
dan berbincang tentang susila, politik dan agama
seperti soal-soal yang dikuasai.

Di mana setiap tukang jamu disambut dengan hangat
dengan perhatian dan tawanya.

Di mana ocehan di jalan lebih berharga
dari renungan tenang di kamar.

Di mana curiga lebih mendalam dari cinta dan percaya.

Kalau aku pergi ke luar negeri, dik
karena aku ingin merdeka dan menemukan diri.
UNSUR TIPOGRAFI

Seperti telah dijelaskan sebelumnya pada makalah Oktav (2014: 5) Tipografi atau tata wajah juga termasuk sarana dalam struktur fisik puisi. Di mana menurut Waluyo (seperti dikutip Oktav, 2014: 5), tipografi digunakan sebagai proses dalam peletakan atau pengelompokan huruf pada sajak, seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Banyak penyair yang mementingkan tata wajah, bahkan berusaha menciptakan puisi seperti gambar yang mewakili maksud tertentu. Seperti yang dikemukaan oleh Suharianto (1981: 37) (dikutip Subekti, http://odazzander.blogspot.com/2011/09/unsur-unsur-puisi.html, akses 4 April 2014), bahwa tipografi adalah ukiran bentuk yaitu susunan baris-baris atau bait-bait suatu puisi. Secara harfiah tipografi berarti seni mencetak dengan desain khusus, susunan atau rupa (penampilan) barang cetak. Menurut Winkler (dalam Badrun 1989: 87) tipografi lebih kepada bentuk yaitu susunan atau rupa. Dalam hal ini tipografi diartikan sebagai ukiran bentuk.

Jabrohim dkk (2003: 54) mengemukakan bahwa tipografi merupakan pembeda antara puisi dengan prosa fiksi dan drama. Baris-baris puisi tidak diawali dari tepi kiri dan berakhir di tepi kanan. Tapi sebelah kiri maupun kanan sebuah baris puisi tidak harus dipenuhi oleh tulisan, tidak seperti halnya jika kita menulis prosa (Subekti, http://odazzander.blogspot.com/2011/09/unsur-unsur-puisi.html, akses 4 April 2014).

Contoh puisi yang menggunakan unsur tipografi dengan pengaturan barisnya (seperti dikutip Ayken, Makalah: 2014):
RI Satu

kepala                                        kepala
             kepala    kepala   kepala
kepala           kepala kepala        kepala
            kepala      kepala     kepala
                   kepala     kepala
kepala  kepala   kepala   kepala  kepala
           kepalakepalakepalakepala
                     kepalakepala
                       BANYAK

                           tapi
                          cuma
                           satu
                         kepala
                     paling kepala
                                             1978
                                             (Sylado, 2004: 120)
Contoh tipografi dengan pengaturan tepi kiri dan kanan serta tidak diawali dengan huruf kapital (Waluyo, 2002: 15):
Doktorandus Tikus I

selusin toga
                me
                          nga
                                      nga
seratus tikus berkampus
                                di atasnya
                dosen dijerat
profesor diracun
                kucing
                        kawin
                               dan bunting
dengan predikat
        sangat memuaskan
                                         (Soempah WTS, 1984)
KESIMPULAN

Dalam puisi ada beberapa unsur yang terkandung di dalamnya seperti sarana retorika yang digunakan oleh para penyair dalam menentukan kata ataupun bahasa yang mengandung makna konotasi yang bertujuan untuk membuat kata-katanya lebih puitis. Kemudian ada juga larik dan bait yang merupakan bagian dari puisi. Kemudian ada juga pewajahan dalam puisi atau biasa disebut dengan tipografi. Di mana tipografi biasanya digunakan oleh para penyair kontemporer untuk menggambarkan makna puisi dengan susunan baris dan juga bait puisinya yang terkadang membentuk makna dari puisi tersebut.

Unsur-unsur puisi sangat berpengaruh terhadap isi dari puisi tersebut dan juga dapat membedakan ciri puisi apakah itu puisi lama, puisi baru ataupun puisi modern. Dan juga unsur bentuk puisi ini dapat digunakan oleh para penyair dalam menyampaikan makna dari puisinya dan juga dapat menggambarkan ciri khas atau identitas puisi dari setiap penyair.

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan, et.al.. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka, 2003.

Aminuddin. "Cara Menulis Puisi: Baris, Larik, dan Bait." http://www.aminudin.com/2013/01/tips-menulis-puisi-3.html (akses 5 April 2014).

Arifin, Zaenal dan Amran Tasai. Cermat Berbahasa Indonesia; untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Akademika Pressindo, 2009.

Intama Rini. "Unsur-unsur Puisi." http://riniintama.wordpress.com/unsur-unsur-puisi/  (akses, 2 April 2014).

Oktav, Herry. "Jenis Puisi Indonesia Dilihat dari Strukturnya; Puisi Terikat, Puisi Bebas, dan Puisi Inkonvensional." Makalah disampaikan pada Kajian Puisi Komunitas Literasi Alfabét, Tangerang Selatan, 2014.

Pradopo, Rachmat Djoko. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2012.

Primadeka, Oky. "Unsur-unsur Bentuk Puisi: Bunyi, Kata, Bahasa Kiasan/Majas dan Citraan." Makalah disampaikan pada Kajian Puisi Komunitas Literasi Alfabét, Tangerang Selatan, 2014.

"Puisi." http://id.wikipedia.org/wiki/Puisi (akses 5 Februari 2014).

Subekti, Mukodas Arif. "Unsur-unsur Puisi." http://odazzander.blogspot.com/2011/09/unsur-unsur-puisi.html (akses 4 April 2014).

Sugianto. "Puisi." http://sugikmaut.blog.com/ ( akses 2 April 2014).

Teeuw, A. Sastra dan Ilmu Nusantara: Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya, 1984.

WS, Andik. "Puisi." http://andikws.blogspot.com/2011/08/puisi.html#more (akses 2 April 2014).

WS, Hasanuddin. Membaca dan Menilai Sajak: Pengantar Pengkajian dan Interpretasi. Bandung: Angkasa, 2012.

Waluyo, Herman J. Apresiasi Puisi untuk Pelajar dan Mahasiswa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2002.


* Yuni Budiawati, mahasiswi Perbankan Syariah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan pegiat FLAT, Foreign Languages Association.

2 komentar:

unwanal fathi 2 Oktober 2014 22.46  

trimakasih atas ilmunya. Izin nukil tulisannya ya. . buat tambahan pengetahuan.

kolibét ciputat 18 Mei 2015 14.52  

Sama-sama. Silakan jika berkenan mencantumkan nama pemakalah ini, Yuni Budiawati. Demi sebuah pertanggungjawaban penulisan.

Salam...

  © KOLIBÉT Komunitas Literasi Alfabét by Ourblogtemplates.com 2014

Log In