Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan

Karakteristik Bahasa Puisi: Makna Denotasi, Konotasi, dan Bahasa Kiasan

>> 23/11/14

Khairini Lulut*


A. Pengantar 

Mempelajari sastra khususnya puisi merupakan suatu hobi sebagian orang. Jika ingin mendapatkan pemahaman dalam sebuah puisi, maka kita harus mempelajari bagaimana puisi itu sendiri. Salah satu yang harus dipelajari adalah memahami karakteristik bahasa puisi.

Pada pertemuan sebelumnya, kita sudah membahas karakteristik bahasa puisi: perbedaannya dengan karya sastra lain dan diksi dalam puisi, yang telah dipresentasikan Faliq Ayken. Pada pertemuan tersebut telah kita ketahui bahwa puisi memiliki kekhasan sendiri dibanding dengan sastra lainnya. Hal itu dapat dilihat salah satunya melalui diksi dalam karya sastra itu sendiri.

Pada pertemuan ini, akan dibahas karakteristik bahasa puisi yang ditinjau dari makna denotasi dan konotasi serta bahasa kiasan.


B. Makna Denotasi dan Konotasi

Puisi merupakan karya sastra berupa gubahan atau rangkaian dalam bahasa yang dibentuk secara selektif, tertata, dan cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan makna khusus (Oktav, Makalah, 2014). Pada makalah sebelumnya, unsur-unsur makna yang terdapat di dalam puisi, sudah sangat jelas menjelaskan maksud dari makna. Makna memiliki definisi lebih kompleks daripada arti, sedangkan arti merupakan perwujudan aktual dari makna (Oktav, Makalah, 2014). Kata makna dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Dalam Jaringan menyebutkan, makna adalah arti; maksud pembicara atau penulis; pengertian yang diberikan kepada suatu bentuk kebahasaan.

Kata denotasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Dalam Jaringan menyebutkan, denotasi adalah makna kata atau kelompok kata yang didasarkan atas penunjukan yang lugas pada sesuatu di luar bahasa atau yang didasarkan atas konvensi tertentu dan bersifat objektif. Kata konotasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 2007: 588) menyebutkan bahwa konotasi adalah tautan pikiran yang menimbulkan nilai rasa pada seseorang ketika berhadapan dengan sebuah kata; makna yang ditambahkan pada makna denotasi.

Dalam buku Semantik Pengantar Memahami Makna Bahasa yang mengutip Trask (Subuki, 2011: 48) mengemukakan bahwa denotasi mengacu kepada arti sentral dari sebuah bentuk linguistik yang dapat dipertimbangkan sebagai hal yang diacunya. Bagi Cruse, denotasi mencakup persoalan ekstensi dan intensi (Cruse, 2006: 136). Subuki yang mengutip Kreidler (2011: 48) menyebutkan, ekstensi dari sebuah bentuk linguistik mencakup seluruh entitas yang dapat didenotasi oleh bentuk tersebut, misalnya kata buah dapat mendenotasi mangga, apel, jeruk, dan sebagainya yang masih termasuk dalam kelompok buah; sedangkan intensi dari sebuah bentuk linguistik mengacu pada ciri dan/atau sifat yang dimiliki bersama oleh ekstensinya, misalnya ciri dan/atau sifat yang sama antara mangga, apel, jeruk, dan sebagainya. Sementara istilah konotasi yang dikutip dari Trask (1999: 51) didefinisikan sebagai arti kata yang lebih luas dari makna sentral dan makna utamanya yang biasanya diperoleh melalui asosiasi yang berulang (Subuki, 2011: 49).

Menurut Waridah (2013: 302) makna denotasi adalah makna suatu kata sesuai dengan konsep asalnya, tanpa mengalami perubahan makna atau penambahan makna, dan disebut pula makna lugas. Sementara makna konotasi diartikan sebagai makna suatu kata berdasarkan perasaan atau pemikiran seseorang, dapat dianggap sebagai makna denotasi yang mengalami penambahan makna, dan dapat disebut pula sebagai makna kias atau makna kontekstual.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat ditarik sebuah benang merahnya bahwa makna denotasi merupakan sebuah makna yang sebenarnya dari kata tersebut dan mempunyai arti atau makna yang sama dalam kamus atau dapat disebut sebagai makna leksikal. Sementara makna konotasi dapat diartikan sebagai makna yang tidak sebenarnya dari suatu kata atau tidak didasarkan atas kondisi kebenaran (non-truth-conditional) dan merupakan makna tambahan terhadap makna dasarnya yang berupa nilai rasa dan bersifat subjektif sesuai penggunanya.

Untuk lebih memahami makna denotasi dan konotasi, berikut diberikan tabel contohnya:

Kata
Denotasi
Konotasi
Makna
Kalimat
Makna
Kalimat
Wajah
Muka
Wajahnya tampak berseri.
Gambaran umum yang tampak
Jakarta adalah wajah Indonesia.
Tenggelam
Karam
Kapal laut tenggelam setelah dihantam ombak setinggi 5 meter.
Bangkrut; hilang
Usaha kecilnya tenggelam akibat krisis ekonomi.
Kacamata
Lensa tipis untuk mata
Kakek membaca koran menggunakan kacamata.
Sudut pandang
Aku selalu salah menurut kacamatanya.

Dikemukakan oleh Wellek (1962: 23) yang pemakalah sadur dari Pradopo (2012: 60) bahwa bahasa sastra penuh arti ganda, penuh homonim, kategori-kategori arbiter, atau irasional, menyerap peristiwa sejarah, ingatan-ingatan, dan asosiasi-asosiasi.

Dalam sebuah puisi, kata yang tersusun tidak hanya mengandung makna denotasi saja. Pada umumnya, puisi memiliki makna tambahan yang ditimbulkan oleh asosiasi-asosiasi yang keluar dari denotasinya. Seperti yang telah dibahas oleh Faliq Ayken dalam makalah sebelumnya bahwa puisi lebih cenderung menggunakan bahasa konotatif (bermakna konotasi) sementara makna denotasi atau bahasa sehari-hari lebih dekat dengan bahasa prosa dan drama (Ayken, Makalah, 2014).

Puisi sebagai karya sastra memiliki gaya bahasa dengan makna yang tidak hanya menerangkan, tetapi juga sangat ekspresif yang membawa nada dan sikap pada si pembicara atau si penulis. Makna konotasi dalam sebuah puisi membuat penikmat puisi memiliki imajinasi yang membawa emosi perasaan tertentu. Misalnya pada bait sajak Toto Sudarto Bachtiar di bawah ini:

PAHLAWAN TAK DIKENAL

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang

(Toto Sudarto Bachtiar, http://pecintapuisi.wordpress.com/2007/12/15/pahlawan-tak-dikenal/, akses 22 Juni 2014).

Puisi Toto Sudarto Bachtiar di atas sangat tergambar makna konotasi yang dibuatnya. Penyair menuliskan kata 'terbaring'; 'tapi bukan tidur', hal ini dapat diartikan dengan mati atau meninggal. Puisi di atas memberikan imajinasi bagi pembacanya untuk membayangkan seorang pahlawan yang terkapar atau terbaring akibat tertembak.

Contoh puisi lainnya adalah sebagai berikut:

          Cermin Mimi Aya
Apa kabarmu, sayang, masihkah kauingat nasihatku
Waktu kutitipkan cermin kesayanganku kepadamu?
Bagaimana rasanya becermin?
Apakah kau telah mengetahui dirimu sendiri,
saat cermin itu tiba-tiba retak saat kautatap?
Setiap malam sebelum aku dijemput mimpi,
aku berdiri di depannya sambil mengedipkan mata,
terkedip-kedip seperti matamu sebelum tidur dalam tafakur keabadian
Dijemput Kekasihmu yang sudah lama kaunantikan
Ialah Mimi Aya, perempuan yang tak pernah menyerah memberikan arah
kala aku terjebak hiburan-hiburan jalanan
Ialah kau, Ibu yang tak suka anak-anaknya mencuri dan mencari
cermin-cermin lain sebelum ilmu cermin itu dihabiskan
... dst
(Faliq Ayken, Puisi Cermin, http://kolibet.blogspot.com/2014/04/cermin-mimi-aya.html, akses 22 Juni 2014).
Pada puisi di atas, kata cermin memiliki makna konotasi sebagai teladan atau pelajaran. Penulis puisi tersebut memberikan gambaran bahwa Mimi Aya adalah sebagai cerminnya. Mimi Aya sebagai Ibu yang selalu memberikan penulis arah. Dan karena itulah penulis menganggap Ibunya sebagai cermin, teladannya.


C. Perubahan Makna

Dalam susunan kata, sebuah kata seringkali mengalami perubahan makna dalam penggunaannya. Berikut akan diuraikan beberapa perubahan makna tersebut.

1. Perluasan Makna (Generalisasi), perluasan makna yang terjadi apabila makna suatu kata lebih luas dari makna asalnya.

Contoh:

Kata
Makna Asal
Makna Baru
Adik
Saudara sekandung yang lebih muda
Semua orang yang usianya di bawah kita
Bapak
Ayah
Setiap laki-laki dewasa
Kepala
Bagian badan sebelah atas
Jabatan tertinggi; pimpinan seperti pada kepala sekolah, kepala rumah sakit

2. Penyempitan Makna (Spesialisasi), penyempitan makna yang terjadi apabila sebuah kata yang pada mulanya mempunyai makna yang luas, kemudian berubah menjadi terbatas hanya pada sebuah makna.

Contoh:

Kata
Makna Asal
Makna Baru
Gadis
Anak dara
Perawan
Sastra
Tulisan
Karangan-karangan yang bernilai keindahan dan dapat menggugah perasaan

3. Ameliorasi, perubahan makna yang nilainya lebih tinggi dari makna asalnya.

Contoh:

Kata
Lembaga permasyarakatan
Nilai rasanya lebih tinggi daripada
Bui; tahanan
Wanita
Perempuan
Tuna susila
Pelacur
Pramuniaga
Pelayan toko

4. Peyorasi, perubahan makna yang nilai rasanya lebih rendah dari makna asalnya.

Contoh:

Kata
Makna Asal
Makna Baru
Fundamentalis
Orang yang berpegang pada prinsip
Orang yang hidupnya eksklusif, mengedepankan kekerasan
Cuci tangan
Kegiatan mencuci tangan setelah makan dan bekerja
Tidak bertanggungjawab dalam suatu persoalan
Kroni
Sahabat
Kawan dari seorang penjahat

5. Sinestesia, perubahan makna yang terjadi sebagai akibat pertukaran tanggapan dua indera yang berbeda.

Contoh:
  • Rinrin tampak manis bila mengenakan baju kebaya. ('tampak manis' merupakan pertukaran antara indera penglihatan dengan indera pengecap). 
  • Suara penyanyi itu sangat lembut. ('suara penyanyi' dan 'sangat lembut' merupakan pertukaran antara indera pendengaran dengan indera perasa).
Perubahan makna sinestesia sering digunakan oleh seorang penyair untuk mengungkapkan perasaannya.

Contoh:
Wangiku telah menjadi coklat tanahmu
Wangiku telah menjadi garam dalam lautmu
Wangiku akan selalu dikicaukan burung-burung
(D. Zawawi Imron, "Selamat Datang", https://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20091003171438AAmR31R, akses 22 Juni 2014).

Wangi adalah aroma yang berkaitan dengan indera penciuman, kemudian ditukar dengan indera penglihatan 'warna coklat', indera pengecapan 'garam', dan indera pendengaran 'kicau'.
Angin Angan
Pintu berderit saat udara malam bergerak perlahan
menelusup ke dalam tulang terdalam sepasang kekasih
di hening hujan malam pertemuan
….. dst
(Oky Primadeka, Puisi Angin, http://kolibet.blogspot.com/2014/05/angin-angan.html, akses 22 Juni 2014)

Pada puisi di atas, 'pintu berderit' dan 'udara malam bergerak perlahan' merupakan pertukaran antara indera pendengaran dengan indera penglihatan.

6. Asosiasi, makna kata yang timbul karena persamaan sifat.

Contoh:
Kata
Makna Asal
Makna Baru
Kursi
Tempat duduk
Jabatan
Bunglon
Binatang sejenis kadal yang dapat bertukar warna kulit
Orang yang pendiriannya tidak tetap
Tikus
Binatang pengerat yang sering menimbulkan kerugian
Koruptor

Makna asosiasi dapat pula dihubungkan dengan beberapa unsur berikut ini:

a. Waktu atau peristiwa
Contoh:
Kartosuwiryo mengganas di Jawa Barat.
Lagu Mengheningkan Cipta dikumandangkan pada upacara memperingati Hari Pahlawan.

b. Tempat atau lokasi
Contoh:
Mantan pejabat itu sekarang menginap di hotel prodeo. (penjara)
Tanah Lot menjadi tujuan liburan keluarga. (tempat pariwisata di Bali)

c. Warna
Contoh:
Warna putih pada suatu pertempuran mengasosiasikan ‘menyerah dan lawan harus menghentikan pertempuran’.
Warna hijau pada lampu lalu intas mengasosiasikan ‘berjalan’.

d. Tanda atau lambang tertentu
Contoh:
Tanda S berasosiasi dengan perintah untuk berhenti.
Tanda Sendok dan Garpu berasosiasi dengan rumah makan.


D. Bahasa Kiasan

Menurut Mulyono, gaya bahasa adalah cara khas menyatakan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulis atau lisan. Menurut HB Jassin, gaya bahasa adalah perihal memilih dan mempergunakan kata sesuai dengan isi yang ingin disampaikan. Sedangkan menurut Nata Wijaya, gaya bahasa adalah pernyataan dengan pola tertentu, sehingga mempunyai efek tersendiri terhadap pemerhati pembaca dan pendengar (Yusuf, http://kibutut.blogspot.com/2013/06/gaya-bahasa-dalam-puisi.html, akses 20 Mei 2014). Menurut Keraf (2006: 113), gaya bahasa merupakan cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperhatikan ciri dan kepribadian penulis (pemakai bahasa). Sedangkan dalam Tarigan (1985: 5) dinyatakan bahwa gaya bahasa adalah bahasa indah yang dipergunakan untuk meningkatkan efek dengan jalan memperkenalkan serta membandingkan suatu benda atau hal tertentu dengan benda atau hal lain yang lebih umum (Admin, http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/17733/4/Chapter%20II.pdf, akses 21 Juni 2014).

Dapat pemakalah katakan bahwa gaya bahasa merupakan suatu pikiran yang disampaikan seorang penulis dengan kata-kata (baik secara tulis ataupun lisan) sebagai ekspresi dalam dirinya yang menimbulkan suatu efek bagi pembaca atau pendengarnya.

Selanjutnya, Keraf (1984) membagi gaya bahasa menjadi lima bagian, yaitu gaya bahasa yang dibagi menjadi segi non-bahasa dan bahasa itu sendiri; gaya bahasa berdasarkan pilihan kata yang terdiri dari gaya bahasa resmi, gaya bahasa tak resmi, dan gaya bahasa percakapan; gaya berdasarkan nada yang dibagi lagi menjadi gaya sederhana, gaya mulia dan bertenaga dan gaya menengah; gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat yaitu menyangkut klimaks, antiklimaks, paralelisme, antitesis, dan repetisi; dan yang terakhir gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna yang terbagi menjadi dua yaitu gaya bahasa retoris dan gaya bahasa kiasan (Saida, http://jurnal-online.um.ac.id/data/artikel/artikel5FFCF6DF3C432EF1777FBB04E4E6ABAC.pdf, akses 21 Juni 2014).

Sementara itu, Tarigan membagi gaya bahasa menjadi empat varian, yaitu gaya bahasa perbandingan yang terdiri atas sebelas macam, gaya bahasa pertentangan yang terdiri atas dua puluh satu macam, gaya bahasa pertautan yang terdiri atas empat belas macam, dan gaya bahasa perulangan yang terdiri atas tiga belas macam (Admin, http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/17733/4/Chapter%20II.pdf, akses 21 Juni 2014).

Meruncing kepada gaya bahasa kiasan, pemakalah akan menerangkan mengenai bahasa kiasan dengan merujuk pada pendapat Keraf.

Menurut Keraf (2004: 136), gaya bahasa kiasan adalah membandingkan sesuatu dengan sesuatu hal yang lain, berarti mencoba untuk menemukan ciri yang menunjukkan kesamaan antara dua hal tersebut.
Gaya bahasa kiasan ini pertama-tama dibentuk berdasarkan perbandingan atau persamaan. Membandingkan sesuatu dengan yang lain, berarti mencoba menemukan ciri-ciri yang menunjukkan kesamaan antara kedua hal tersebut  (Keraf, 2006: 136). Perbandingan sebenarnya mengandung dua pengertian, yaitu perbandingan yang termasuk dalam gaya bahasa yang polos atau dalam arti makna denotasinya dan perbandingan yang termasuk dalam gaya bahasa kiasan atau dalam arti makna konotasi. Berikut contohnya:
a. Dia sama pintarnya dengan kakaknya.
b. Parasnya seperti rembulan yang bercahaya.
Perbedaan antara kedua perbandingan di atas adalah dalam hal kelasnya. Perbandingan pertama mencakup dua anggota yang termasuk dalam kelas yang sama dan gaya bahasa yang digunakan memiliki makna denotatif, sedangkan perbandingan kedua, sebagai bahasa kiasan, mencakup dua hal yang termasuk dalam kelas yang berlainan dan bermakna konotasi (Admin, http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/17733/4/Chapter%20II.pdf, akses 21 Juni 2014).

Bahasa kiasan atau majas dalam sebuah karya sastra dapat menghidupkan atau meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu. Penggunaan majas menyebabkan puisi menjadi menarik perhatian, menimbulkan kesegaran, hidup, dan terutama menimbulkan kejelasan gambaran angan (Pradopo, 2007: 62).

Pradopo (2000: 62) mengemukakan bahwa jenis majas meliputi perbandingan (simile), metafora, perumpamaan epos (epic simile), personifikasi, metonimia, sinekdoke (synecdoche), dan alegori. Badrun (1989: 26) berpendapat bahwa jenis majas terdiri dari simile, metafora, personifikasi, sinekdoke, metonimia, simbol, dan alegori (Admin, http://eprints.uny.ac.id/9525/3/bab%202-05210141021.pdf, akses 21 Juni 2014).

Sementara itu, Keraf (2004: 124-145) membagi bahasa kiasan yang merupakan bagian dari gaya bahasa yang berdasarkan langsung tidaknya makna meliputi persamaan atau simile, metafora, alegori, parabel, fabel, personifikasi, alusi, eponim, epitet, sinekdoke, metonimia, antonomasia, hipalase, ironi, sinisme, dan sarkasme, satire, innuendo, antifrasis (Sukir, http://ngawieducation.blogspot.com/2009/02/stelistika-unsur-retorika-gaya-bahasa.html,  akses 21 Juni 2014). 

Berikut akan diberikan penjelasan mengenai macam-macam bahasa kiasan.

1. Simile
Keraf (2004: 142) berpendapat bahwa simile adalah perbandingan yang bersifat eksplisit, yaitu gaya bahasa yang langsung menyatakan sesuatu yang sama dengan hal lain dengan menggunakan kata-kata pembanding seperti: bagai, bagaikan, sebagai, bak, seperti, semisal, seumpama, laksana, sepantun, penaka, se, dan lainnya. Contoh:
biarlah ia pergi laksana hembusan angin
walau sesaat...
tetap saja,
pernah menyejukkan
2. Metafora
Keraf (2004: 139) berpendapat bahwa metafora adalah semacam analogi yang membandingkan dua hal secara langsung tetapi dalam bentuk yang singkat. Metafora adalah majas perbandingan yang tidak menggunakan kata-kata pembanding. Menurut Altenbernd, metafora menyatakan sesuatu sebagai hal yang sama dengan hal lain, yang sesungguhnya tidak sama (Pradopo, 2012: 66). Contohnya: tangan kanan (orang kepercayaan), raja siang (matahari), putri malam (bulan), bunga bangsa (pahlawan), dan lain sebagainya (http://rijalfahmi6.blogspot.com/p/blog-page_7809.html, akses 20 Mei 2014). Contoh lainnya seperti pada kalimat rumahku surgaku, pemuda adalah bunga bangsa.

Contoh pada puisi:

Bumi ini perempuan jalang
yang menarik laki-laki jantan dan pertapa
ke rawa-rawa mesum ini

(Subagio Sastrowardjojo, "Dewa Telah Mati", http://sapuani.blogspot.com/2010/05/dewa-telah-mati.html, akses 22 Juni 2014)

Metafora terdiri dari dua term atau dua bagian, yaitu term pokok (principal term) dan term kedua (secondary term) (Pradopo, 2007: 66-67). Term pokok disebut juga tenor, term kedua disebut juga vehicle. Term pokok atau tenor menyebutkan hal yang dibandingkan, sedang term kedua atau vehicle adalah hal yang membandingkan. Misalnya 'Aku' ini 'binatang jalang': 'Aku' adalah term pokok, sedang 'binatang jalang' term kedua atau vehicle. Namun seringkali penyair langsung menyebutkan term kedua tanpa menyebutkan term pokok atau tenor. Metafora ini disebut metafora implisit (implied metaphor) (Pradopo, 2007: 66-67).

3. Alegori
Alegori adalah kata kiasan berbentuk lukisan atau cerita kiasan. Cerita kiasan ini mengiaskan hal lain atau kejadian lain. Majas ini dapat pula dikatakan sebagai lanjutan dari metafora atau merupakan metafora yang dikembangkan. Majas ini banyak ditemui pada puisi-puisi Angkatan Pujangga Baru. Juga banyak ditemui pada puisi-puisi modern (Pradopo, 2012: 71). Dalam alegori, nama-nama pelakunya adalah sifat-sifat yang abstrak, serta tujuannya selalu jelas tersurat. Misalnya: Cerita tentang putri salju.

Contoh pada puisi:
Teratai
Kepada Ki Hajar Dewantara

Dalam kebun di tanah airku
Tumbuh sekuntum bunga teratai
Terembunyi kembang indah permai
Tidak terlihat orang yang lalu
Akarnya tumbuh di hati dunia
Daun bersemi Laksmi mengarang
Biarpun diabaikan orang
Seroja kembang gemilang mulia
……………………………….

(Sanusi Pane, "Teratai", http://immhabib5.wordpress.com/2012/12/23/majas-dalam-puisi/, akses 22 Juni 2014)

4. Parabel
Parabel adalah suatu kisah singkat dengan tokoh-tokoh yang biasanya manusia, yang selalu mengandung tema moral dan biasanya berhubungan dengan agama. Misalnya: Cerita tentang anak yang durhaka kepada orang tuanya.

5. Fabel
Fabel adalah suatu metafora yang berbentuk cerita mengenai dunia binatang, di mana binatang dapat bertingkah laku seperti manusia. Misalnya: Cerita dongeng Sang Kancil.

6. Personifikasi
Merupakan gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati yang tidak bernyawa yang seolah-olah memiliki sifat-sifat manusia (Waridah, 2013: 342). Pradopo (1995: 75) berpendapat bahwa personifikasi adalah kiasan yang mempersamakan benda dengan manusia, benda-benda mati dibuat dapat berbuat, perpikir, dan sebagainya seperti manusia. 

Contoh:
Ombak berlarian ke tepi pantai
Angin mengejar dan berhembus sejuk
7. Alusi
Alusi atau dikenal pula dengan istilah alusio adalah gaya bahasa yang memakai ungkapan, kiasan atau peribahasa yang sudah lazim dipakai orang (admin, http://kibutut.blogspot.com/2013/06/gaya-bahasa-dalam-puisi.html, akses 20 Mei 2014). Dengan demikian, alusi merupakan gaya bahasa yang menampilkan adanya persamaan antara tempat, orang, atau peristiwa dari sesuatu yang dilukiskan dengan referensi atau gambaran yang sudah dikenal pembaca.

Contoh :
Hidupnya seperti telur di ujung tanduk.
Semoga di masa yang akan datang, lahir Bung Karno – Bung Karno kecil bagi bangsa ini.
8. Eponim
Ade Nurdin, Yani Maryani, dan Mumu (2002: 25) berpendapat bahwa eponim adalah gaya bahasa yang dipergunakan seseorang untuk menyebutkan suatu hal atau nama dengan menghubungkannya dengan sesuatu berdasarkan sifatnya. Sejalan dengan pendapat tersebut, Keraf (2004: 141) menjelaskan bahwa eponim adalah suatu gaya bahasa di mana seseorang yang namanya begitu sering dihubungkan dengan sifat tertentu, sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan sifat. 
Misalnya: Anak itu masih kecil, namun kekuatannya seperti Hercules.

9. Epitet
Keraf (2004: 141) berpendapat bahwa epitet adalah acuan yang berusaha menyugestikan kesamaan antar orang, tempat, atau peristiwa. Epitet adalah semacam acuan yang menyatakan suatu sifat atau ciri yang khusus dari seseorang atau suatu hal. Misalnya: Sang putri malam sedang menunjukkan sinarnya (=bulan).

10. Sinekdoke
Keraf (2004: 142) berpendapat bahwa sinekdoke adalah semacam bahasa figurative yang mempergunakan sebagian dari sesuatu hal untuk menyatakan keseluruhan atau mempergunakan keseluruhan untuk menyatakan sebagian. Sinekdoke adalah bahasa kiasan yang  menyebutkan sesuatu sebagian untuk menyatakan keseluruhan ataupun  sebaliknya (Waridah, 2013: 343).

Pars pro toto: jenis yang menyebutkan sebagian untuk keseluruhan.
 Contoh:
Hingga saat ini ia belum kelihatan batang hidungnya.

Totum pro parte: jenis yang menyebutkan keseluruhan untuk sebagian.
Contoh:
Indonesia akan mendukung tim sepak bolanya malam ini.

11. Metonimia
Metonimia adalah jenis majas yang penggunaannya paling jarang dibandingkan dengan majas-majas perbandingan lainnya. Dalam bahasa Indonesia, metonimia disebut sebagai pengganti nama. Kemudian, menurut Altendberg (1970: 21), bahasa metonimia berupa penggunaan sebuah atribut sebuah objek atau penggunaan sesuatu yang hubungannya dekat untuk menggantikan objek tersebut (Pradopo, 2012: 77). Seperti yang dikutip pada Djojosuroto, metonimia adalah bahasa kiasan yang mempergunakan sebuah kata atau kalimat untuk menyatakan sesuatu, karena mempunyai pertautan yang dekat dan relasional (admin, http://rijalfahmi6.blogspot.com/p/blog-page_7809.html, akses 20 Mei 2014).

Aminuddin (1995:241) berpendapat bahwa metonimia adalah pengganti kata yang satu dengan kata yang lain dalam suatu konstruksi akibat terdapatnya ciri yang bersifat tetap.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa metonimia adalah penamaan terhadap suatu benda dengan menggunakan nama yang sudah terkenal atau melekat pada suatu benda tersebut.

Misalnya:
Ia membeli sebuah Chevrolet.
Kakak membeli Aqua gelas.
12. Antonomasia
Antonomasia adalah sebuah bentuk khusus dari sinekdoke yang berwujud penggunaan sebuah epitet untuk menggantikan nama diri, atau gelar resmi, atau jabatan untuk menggantikan nama diri. Dengan kata lain, antonomasia adalah gaya bahasa yang menyebutkan nama orang dengan sebutan lain sesuai dengan ciri fisik dirinya atau watak orang tersebut, atau berupa penyebutan gelar resmi dan semacamnya untuk menggantikan nama diri.

Contoh:
Si gendut baru bangun tidur.
Megawati Soekarno Putri dan Meutia Hatta adalah putri-putri Sang Proklamator yang aktif di bidang pemerintahan.
13. Hipalase
Keraf (2004: 142) berpendapat bahwa hipalase adalah semacam gaya bahasa yang mempergunakan sebuah kata tertentu untuk menerangkan sebuah kata yang seharusnya dikenakan pada sebuah kata yang lain. Maksud pendapat di atas adalah hipalase merupakan gaya bahasa yang menerangkan sebuah kata tetapi sebenarnya kata tersebut untuk menjelaskan kata yang lain.

Misalnya:
Ia berbaring di atas sebuah kasur yang gelisah (yang gelisah adalah manusianya bukan kasurnya). 
14. Ironi
Keraf (2004: 143) berpendapat bahwa gaya bahasa sindiran atau ironi adalah suatu acuan yang ingin mengatakan sesuatu dengan makna atau maksud berlainan dari apa yang terkandung dalam rangkaian kata-katanya. Ironi/sindiran adalah gaya bahasa berupa penyampaian kata-kata dengan berbeda atau berlawanan dengan maksud yang sesungguhnya, dan pembaca atau pendengar diharapkan memahami maksud penyampaian tersebut.

Contoh:
Pagi sekali kau pulang, masih jam 2 malam.
Kulihat kutu buku itu selalu berada di perpustakaan.
15. Sinisme
Keraf (2004: 143) berpendapat bahwa sinisme adalah gaya bahasa sebagai suatu sindiran yang berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan terhadap keikhlasan dan ketulusan hati. 

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sinisme adalah gaya bahasa yang bertujuan menyindir, mirip dengan ironi, tetapi kata-kata yang digunakan agak kasar dengan tujuan agar orang tersindir secara lebih tajam dan menusuk perasaan.

Contoh:
Kau kan sudah hebat, tak perlu lagi mendengar nasihat orang tua seperti aku ini!
Kau memang cepat memutuskan suatu pilihan hingga tak memerlukan pendapat orang lain hingga hasilnya tak maksimal!
16. Sarkasme
Waluyo (1995: 86) berpendapat bahwa sarkasme adalah penggunaan kata-kata yang keras dan kasar untuk menyindir atau mengkritik. Sarkasme adalah gaya bahasa sindiran yang paling kasar yang mengekspresikan kemarahan dan dapat membuat sakit hati.

Contoh:
Mulutmu harimaumu
Bangsat tak tahu diri pria itu!
Sikapmu seperti anjing dan sifatmu seperti babi!
17. Satire
Keraf (2004: 144) mengatakan bahwa satire adalah ungkapan yang menertawakan atau menolak sesuatu.
Bentuk ini tidak harus bersifat ironis. Satire mengandung kritik tentang kelemahan manusia. 

Contoh:
Jangan pernah berpikir kau adalah dewa, menghadapi masalah seperti ini pun kau sudah kewalahan. 
18. Innuendo
Keraf (2004: 144) berpendapat bahwa innuendo adalah semacam sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang sebenarnya. Jadi, innuendo adalah gaya bahasa sindiran yang mengungkapkan kenyataan lebih kecil dari yang sebenarnya.

Contoh:
Ia menjadi juragan tanah di daerah itu berkat kelihaiannya bermain mata dengan penguasa (Waridah, 2013: 337).
Setiap ada pesta ia pasti sedikit mabuk karena kebanyakan minum. 
19. Antifrasis
Menurut pendapat Keraf (2004: 132), antifrasis adalah semacam ironi yang berwujud penggunaan sebuah kata dengan makna kebalikannya, yang bisa saja dianggap sebagai ironi sendiri, atau kata-kata yang dipakai untuk menangkal kejahatan, roh jahat, dan sebagainya. Antifrasis adalah gaya bahasa sejenis ironi dengan menggunakan kata yang maknanya berlawanan dengan realita yang ada (admin, https://danririsbastind.wordpress.com/tag/gaya-bahasa/, akses 20 Mei 2014).

Contoh:
Si Bule telah datang. (orang berkulit hitam)
Dia dikenal jenius dikelas ini. (padahal bodoh)
Lihatlah sang raksasa telah datang! (maksudnya si cebol) 

E. Kesimpulan 

Makna denotasi dan makna konotasi serta gaya bahasa merupakan salah satu unsur dari sebuah puisi. Puisi lebih umum menggunakan makna konotasi. Penyair menggunakan gaya bahasa sebagai cara khas dalam menyatakan pikiran, gagasan, dan perasaan dalam bentuk tulis atau lisan agar puisi lebih indah, hidup, dan menimbulkan efek pada pembaca atau pendengarnya.

Dari klasifikasi gaya bahasa yang dikemukakan Keraf, bahasa kiasan dapat diklasifikasikan ke dalam 4, yaitu majas perbandingan (simile, metafora, personifikasi, dan alegori), majas pertautan (metonimia, sinekdoke, alusi, eponim, epitet, dan antonomasia), majas sindiran (ironi, sinisme, sarkasme, innuendo, dan antifrasis), majas pertentangan (hipalase, dan satire) dan sisanya parabel serta fabel.


DAFTAR PUSTAKA

"Analisis Gaya Bahasa dalam Puisi Tembang Alam."  http://asrank.blogspot.com/2013/04/analisis-gaya-bahasa-dalam-puisi.html (akses 20 Mei 2014).

Ayken, Faliq. "Karakteristik Bahasa Puisi: Perbedaannya dengan Karya Sastra Lain dan Diksi dalam Puisi." Makalah disampaikan pada Kajian Puisi Komunitas Literasi Alfabét (Kolibét), Tangerang Selatan, 2014.

---------. "Cermin Mimi Aya." http://kolibet.blogspot.com/2014/04/cermin-mimi-aya.html (akses 22 Juni 2014).

"Bab II Landasan Teori." http://eprints.uny.ac.id/9525/3/bab%202-05210141021.pdf (akses 21 Juni 2014).

"Bab II Konsep, Landasan Teori dan Tinjauan Pustaka." http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/17733/4/Chapter%20II.pdf (akses 21 Juni 2014).

Fahmi, Rijal. "Struktur Puisi (Contoh Analisis)." http://rijalfahmi6.blogspot.com/p/blog-page_7809.html (akses 20 Mei 2014).

Mihardja, Dimas Arika. "Bahasa Kias dalam Puisi." http://tamanpendidikandimasar.blogspot.com/2011/02/bahasa-kias-dalam-puisi.html (akses 20 Mei 2014).

Nasional, Departemen Pendidikan. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka, 2007.

Kemdikbud. "Kamus Besar Bahasa Indonesia Dalam Jaringan." http://kbbi.web.id/ (akses 17 Mei 2014).

Oktav, Herry. "Unsur-unsur Makna di dalam Puisi." Makalah disampaikan pada Kajian Puisi Komunitas Literasi Alfabét (Kolibét), Tangerang Selatan, 2014.

Primadeka, Oky. "Unsur-unsur Bentuk Puisi: Bunyi, Kata, Bahasa Kiasan/Majas, dan Citraan." Makalah disampaikan pada Kajian Puisi Komunitas Literasi Alfabét (Kolibét), Tangerang Selatan, 2014.

---------. "Angin Angan." http://kolibet.blogspot.com/2014/05/angin-angan.html (akses 22 Juni 2014).

Pradopo, Rachmat Djoko. Pengkajian Puisi. Cet. 13. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2012.

Riva, Danriris. "Sarana Retorika, Bahasa Kiasan dan Diksi dalam Puisi." https://danririsbastind.wordpress.com/tag/gaya-bahasa/ (akses 20 Mei 2014).

Saida, Akmaliatus. "Gaya Bahasa dalam Cerita Madre Karya Dewi Lestari." http://jurnal-online.um.ac.id/data/artikel/artikel5FFCF6DF3C432EF1777FBB04E4E6ABAC.pdf (akses 21 Juni 2014).

Subuki, Makyun. Semantik: Pengantar Memahami Makna Bahasa. Jakarta: Transpustaka, 2011.

Sukir. "Stelistika, Unsur Retorika, Gaya Bahasa (Lengkap)." http://ngawieducation.blogspot.com/2009/02/stelistika-unsur-retorika-gaya-bahasa.html (akses 21 Juni 2014).

Waridah, Ernawati. EYD Ejaan yang Disempurnakan & Seputar Kebahasa-Indonesiaan. Cet.2. Bandung: Ruang Kata, 2013.

Yusuf, Rosyid. "Gaya Bahasa dalam Puisi." http://kibutut.blogspot.com/2013/06/gaya-bahasa-dalam-puisi.html (akses 20 Mei 2014).


*Khairini Lulut adalah mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan anggota tetap UKM Bahasa-FLAT, Foreign Languages Association, pada universitas yang sama.

Read more...

Karakteristik Bahasa Puisi: Perbedaannya dengan Karya Sastra Lain dan Diksi Puisi

>> 30/05/14

Faliq Ayken*


Unsur-unsur makna di dalam puisi adalah makalah yang telah dipresentasikan oleh Herry Oktav pada pertemuan sebelumnya. Pada makalah tersebut: sense, subject matter, feeling, tone, totality of meaning, dan theme tersampaikan dengan cukup jelas. Dari mulai makna dan arti puisi, jenis-jenis arti (leksikal, konotatif-denotatif, literal-nonliteral, asosiatif-afektif, situatif), sampai dengan makna tema dalam puisi (Oktav, Makalah, 2014).

Pada pertemuan kali ini, saya akan membincang tentang perbedaan puisi dengan karya sastra lain dan diksi puisi. Kedua tema itu masuk dalam kategori karakteristik bahasa puisi. Karakteristik bahasa puisi tentu tidak hanya kedua tema itu, namun masih ada tema-tema yang lain, yaitu: makna denotasi dan konotasi, bahasa kiasan, pencitraan, retorika, dan gaya bahasa.


PERBEDAAN PUISI DENGAN KARYA SASTRA LAIN

Pada dasarnya karya sastra itu wujud permainan kata-kata pengarang berisikan maksud tertentu yang akan disampaikan kepada pembaca. Pembagian sastra terbagi menjadi tiga, yaitu: puisi, prosa, dan drama. Persamaan dari ketiga bagian itu adalah pada konteks penggunaannya, menggunakan kata-kata indah (Damayanti, 2013: 12). Tentu hal demikian agar karya yang sudah diciptakan semakin menarik. Dalam Buku Praktis Bahasa Indonesia 1 yang diterbitkan oleh Pusat Bahasa Depdiknas, Dendy Sugono (2003: 159) mendefinisikan ketiga jenis sastra tersebut, sebagai berikut:
  • Puisi adalah jenis sastra yang bentuknya dipilih dan ditata dengan cermat sehingga mampu mempertajam kesadaran pembaca akan suatu pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat bunyi, irama, dan makna khusus.
  • Prosa adalah jenis sastra dengan bentuk paragraf yang bebas menggunakan kata-kata yang diinginkan pengarang. Prosa lebih dikenal dengan cerita kehidupan dan bahasa prosa sangat dekat dengan bahasa sehari-hari.
  • Drama adalah jenis sastra yang tujuaannya menggambarkan kehidupan lewat lakuan dan dialog para tokoh. Lazimnya dirancang untuk pementasan di panggung.
Berdasarkan pembagian jenis sastra di atas, bahasa prosa dan drama lebih dekat dengan bahasa sehari-hari (denotatif), sedangkan puisi lebih cenderung menggunakan bahasa konotatif. Walaupun bahasanya dekat dengan bahasa sehari-hari, prosa dan drama tetap menggunakan diksi yang menimbulkan efek dan kesan kepada pembaca.

Dalam buku Pengkajian Puisi Rachmat Djoko Pradopo, seperti dikutip Damayanti (2013: 13) menjelaskan dengan sangat gamblang bahwa prosa dan puisi hanya dibedakan kadar kepadatannya. Bahasa yang padat disebut puisi, sedangkan bahasa yang tidak padat disebut prosa. Berdasarkan kepadatan itulah seringkali prosa dikatakan puitis, yaitu prosa yang memiliki sifat puisi. Dan seringkali juga puisi dikatakan prosais, puisi prosais, puisi yang tidak padat atau menyerupai prosa.

Lihatlah contoh di bawah berjudul Jalan ke Surga karya Joko Pinurbo (2007: 15) berikut ini:
Jalan ke Surga

Jalan menuju kantorMu macet total
oleh antrean mobil-mobil curianku
Jika melihat dalam konteks kepadatan, karya Joko Pinurbo di atas adalah karya puisi. Dua larik puisi di atas sarat akan makna. Bagaimana mungkin mobil hasil curian bisa masuk ke dalam kantor-Mu yang suci itu? Bagaimana mungkin seorang berhati busuk, sering menyengsarakan orang lain, bisa masuk ke dalam Surga-Mu? Bagaimana mungkin seorang yang kotor bisa masuk ke dalam rumah-Mu yang bersih itu? Hanya dua larik puisi, tapi mempunyai banyak makna. Padat bukan berarti kata-kata dipangkas habis sampai tersisa hanya beberapa kata dalam satu larik, tapi padat yang tetap memperhatikan diksi. Puisi yang jeli pada diksi, biasanya akan mempunyai banyak makna.

Bagaimana melihat prosa puitis? Lihatlah prosa Bernard Batubara (2013: 17) di bawah ini:

Dalam pejammu, kau melihat jangkrik-jangkrik itu, hujan yang tak kunjung berhenti, debur kali, dan sebatang pohon tua yang melepaskan daun-daun dari tubuhnya. Kau melihatnya menjadi satu, tertata rapi di atas kanvas. Seperti lukisan yang sangat indah, namun tak terjelaskan. Seperti rasa perih dan kehilangan yang tersamar oleh cinta yang sebentar. Dalam gelap dan sunyi, aku mendengar ceritamu. Aku tersenyum, saat kau bercerita kepadaku segala hal tentang aku.

akankah kita bertemu dalam ricik air kali
di belakang rumah, saat arusnya tak pernah
mengizinkan kita mengalir sebagai daun
yang jatuh dari pohon tua di sisi tubuhnya

akankah kita terjalin sebagai dua arus kali
yang berdebur suaranya sepanjang malam,
ketika derik jangkrik melarang kita bicara
dan pohon tua menjerat kita dengan belit

akarnya

Prosa (cerita pendek) di atas adalah bagian akhir dari cerita pendek berjudul, Lukisan Kali dan Pohon Tua. Itu adalah contoh prosa puitis. Bernard Batubara begitu piawai merangkai kata-kata cerita pendeknya, ia merangkainya dengan bahasa puisi. Adakah rima, metafor, diksi puitis, dan rangkaian kata seperti pada puisi? Tentu ada.

Dalam puisi prosais, M Aan Mansyur (2012: 61) dalam puisi laut kecil, bisa dijadikan contoh:
laut kecil

yang warna dan cahaya di tubuhku, yang bening dan asin di
tubuhnya yaitu masa lampau. yang berkepak di tubuhku, yang
beriak di tubuhnya yaitu masa depan.

dunia bening dan terpisah dari yang harusnya menangkap
maksud dan kecupku. di tubuhnya diperangkap dan senang
berenang-renang. aku terbang dalam air dengan sayap-sayap
berkilau-kilau. kau di luar sedang tersenyum seperti mimpi
menerangi tidur yang semula hampa cahaya.

kecupku mampu menjangkau jari yang kaucelup ke tubuhnya,
jika kau mau. aku mencintai kuku-kukumu yang tumbuh putih,
meski sesekali patah kaugigit, yang mampu jadi cermin bagiku
dan bagi siapapun.

ini laut kecil milikmu. sudah terlalu luas bagi tubuhku.

(sambil menyantap sarapan, atau harapan, aku menulis ini. kau
mungkin sedang memainkan alat-alat dapur sembari lirih
membisikkan lirik-lirik lagu kesukaanmu. di luar kaca
jendela, hanya ada januari dan langit lembab.)
Puisi laut kecil di atas adalah puisi yang kemasannya menggunakan teknik menulis prosa. Di sana kata-kata mengalir, bebas, bahkan cenderung tidak ada pemadatan bahasa puisi. Jika Bernard Batubara mengemas cerita pendeknya dengan bahasa puitik, M Aan Mansyur mengemas puisinya selayaknya cerita pendek (prosa).

Untuk contoh drama berjudul Makna Sahabat (http://ilmu-bermanfaat23.blogspot.com/2013/04/contoh-drama-bahasa-indonesia.html, akses 3 Juni 2014) bisa dilihat di bawah ini:

Suasana pagi cerah di SMPN Pelita Harapan Jakarta mengiringi sebuah kisah keempat sekawan dengan karakter yang berbeda-beda. Namun perbedaan tersebut tidak menjadikan mereka berempat berselisih, tetapi menjadikan mereka mascot dalam persahabatan yang sejati. KARA, MIMI, IGO, dan AFIKA, itulah nama mereka. Mereka selalu kompak dan tampak ceria setiap hari. Jadi tidak heran jika mereka memiliki ribuan teman. Keempat sekawan tersebut berbincang-bincang sambil berjalan di koridor sekolah.

IGO: "Hey sob, sebentar lagi kita UAN nich, pastinya waktu untuk kumpul-kumpul kita akan tersita buat belajar. Gimana nich?"

MIMI: "Iya bener juga Zha, jadwal kita bakalan jungkir balik gara-gara persiapan UAN. Jadwal shopping, ke salon, creambath, manypadhy, dan pastinya jadwal kencan bareng bakalan ancur. Aduch, bisa-bisa rambut aku rontok nich."

KARA: "Gak segitunya kalik, tergantung kita juga. Jika kita rajin menabung ilmu, maka kita tidak akan sibuk belajar."

MIMI: "Ah kamu ini Cha, mentang-mentang anak pintar jadinya sok ceramah. Huh nyebelin."

IGO: "Sudah-sudah jangan berdebat, apa yang di omongin KARA itu ada benarnya juga. Coba dech kalian bayangin, jika kita rajin belajar kita tidak perlu sibuk-sibuk mikirin UAN, itung-itung siap senjata dulu sebelum perang. Enjoy aja lagi, bener gak?"

Jika melihat dan membaca contoh drama tersebut, maka akan terlihat jelas penggunaan bahasanya. Menggunakan bahasa lisan, bahasa sehari-hari. Di bagian awal sudah dijelaskan bahwa bahasa drama lebih dekat dengan bahasa sehari-hari.

Dari keempat contoh di atas, kiranya kita bisa menggambarkan perbedaan puisi dengan karya sastra yang lain. Selain keempat contoh yang saya paparkan di atas, masih banyak contoh-contoh lain yang perlu dielaborasi lagi.


DIKSI DALAM PUISI

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terbaru (2008: 328), diksi diartikan: pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti yang diharapkan).

Dalam proses penciptaan puisi, diksi adalah hal yang paling penting. Penyair atau pencipta puisi terkadang akan terus menyempurnakan puisi-puisi yang ia ciptakan dalam beberapa waktu lamanya. Seperti pada puisi Aku karya Chairil Anwar, di mana pada awalnya dia menggunakan diksi /dari kumpulan yang terbuang/ kemudian dirubah menjadi /dari kumpulannya terbuang/.

Dalam puisi Aku tersebut di atas terlihat bahwa gagasan yang ingin disampaikan oleh pencipta puisi lebih terlihat kuat. Diksi "yang" yang digantikan dengan diksi "nya" merupakan sebuah usaha pencipta puisi untuk membangkitkan imajinasi pembaca dengan lebih jelas. Si binatang jalang atau si aku lirik dalam puisi berjudul Aku tersebut bukan hanya dari sekumpulan orang terbuang, tetapi bahkan, dari kelompoknya sendiri ia sudah terbuang (Damayanti, 2013: 23).

Perhatikan dua contoh puisi Chairil Anwar di bawah ini yang sudah ada perubahan diksi. Yang satu, versi Kerikil Tajam. Yang kedua, versi Deru Campur Debu (Pradopo, 2012: 55).
Semangat

Kalau sampai waktuku
'Ku tahu tak seorang 'kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu!
….
      (Kerikil Tajam, h. 15)

Aku

Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang 'kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu
….
      (Deru Campur Debu, h. 7)
Pada dua judul puisi di atas, satu kata yang terdapat dalam judulnya berubah diksi. Pertama, versi Kerikil Tajam, Semangat. Kedua, versi Deru Campur Debu, Aku. Menurut Pradopo (2012: 55), kata semangat itu mengandung arti perasaan yang menyala-nyala, terasa ada sifat yang propagandis, dan berlebih-lebihan. Sedangkan dalam KBBI terbaru (2008: 1258), kata semangat diartikan sebagai roh kehidupan yang menjiwai segala makhluk, baik hidup maupun mati (menurut kepercayaan orang dulu dapat memberi kekuatan). Dalam kata aku terkandung perasaan yang menunjukkan kepribadian penyair pada semangat individualistisnya.
Kata Ku tahu menunjukkan perasaan pesimistis. Jika kata ini dideklamasikan, nadanya melankolik. Sedangkan kata Ku mau menunjukkan perasaan optimistik, kemauan pribadi yang kuat. Bertolak belakang dengan kata Ku tahu.


KESIMPULAN

Karakteristik bahasa puisi bisa diketahui dengan membedakan antara karya puisi dengan karya sastra yang lain. Diksi adalah alat utama untuk membedakan karya sastra itu sendiri. Jika diksi dalam puisi tidak ada, dalam arti tidak selaras, maka yang terjadi adalah ketiadaan nilai estetik dalam puisi tersebut. Kenapa demikian? Karena untuk mendapatkan kepadatan dan intensitas supaya selaras dengan sarana komunikasi yang lain, maka pencipta puisi atau penyair harus memilih kata-kata dengan secermat-cermatnya.

Penyair atau pencipta puisi, sehari-harinya, harus terbiasa membuka kamus dan tahu makna apa yang terkandung dalam puisi yang akan ia ciptakan. Jika sudah mengetahui, maka penyair atau pencipta puisi tentu bisa membedakan mana karya puisi dan mana yang bukan, dan juga bisa membedakan mana bahasa sehari-hari dan mana bahasa khas puisi.


DAFTAR PUSTAKA

Batubara, Bernard. Kumpulan Cerpen Milana: Perempuan yang Menunggu Senja. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2013.

"Contoh Drama Bahasa Indonesia." http://ilmu-bermanfaat23.blogspot.com/2013/04/contoh-drama-bahasa-indonesia.html (akses 3 Juni 2014).

Damayanti, D. Buku Pintar Sastra Indonesia: Puisi, Sajak, Syair, Pantun dan Majas. Yogyakarta: Araska, 2013.

Pinurbo, Joko. Kumpulan Puisi Jokpin 2006-2013. Tangerang Selatan: Azmo Press, 2013.

Mansyur, M Aan. Tokoh-tokoh yang Melawan Kita Dalam Satu Cerita. Jakarta Selatan: Motion Publishing, 2012.

Nasional, Departemen Pendidikan. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008.

Oktav, Herry. “Unsur-unsur Makna yang Terdapat di Dalam Puisi.” Makalah disampaikan pada Kajian Puisi Komunitas Literasi Alfabét (Kolibét), Tangerang Selatan, 2014.

Pradopo, Rachmat Djoko. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2012.

Sugono, Dendy. Buku Praktis Bahasa Indonesia 1. Jakarta: Pusat Bahasa Depdiknas, 2003.

Waluyo, Herman J. Apresiasi Puisi untuk Pelajar dan Mahasiswa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2002.


* Faliq Ayken, nama pena dari Moh. Faliqul Ishbah, alumnus Al-Inaaroh Buntet Pesantren Cirebon dan anggota istimewa FLAT, Foreign Languages Association, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Read more...

Unsur-unsur Makna di dalam Puisi

>> 17/05/14

Herry Oktav*


PENDAHULUAN

Pada pertemuan sebelumnya, pegiat-pegiat Kolibét Ciputat telah membahas unsur-unsur bentuk yang terdapat di dalam puisi yang disampaikan oleh Oky Primadeka dan Yuni Budiawati. Kali ini kita akan membahas unsur-unsur makna yang terdapat di dalam puisi. Pegiat literasi tentu sering menemukan ungkapan, "Waktu adalah uang." Mengapa 'waktu' dapat disebut sebagai 'uang'? Jika merujuk pada arti sebenarnya atau secara leksikal, tentu makna kata-kata tersebut tidak sesuai atau tidak cocok. Kata-kata tersebut jika dicari di dalam kamus, tentu akan didapatkan arti atau makna yang jelas dan pasti. Namun di dalam puisi, maknanya akan berbeda. Sebelum lebih detil membahasnya, tentu perlu diketahui dulu definisi dari makna.

MAKNA DAN ARTI

Makna dan arti sangat erat kaitannya dalam bahasa, apalagi bahasa puisi. Setiap kata memiliki makna dan arti sendiri untuk membedakannya dengan yang lain. Arti bisa disebut sebagai 'maksud yang terkandung dalam perkataan atau kalimat', atau 'makna'. Dalam hal ini makna arti  lebih aktual daripada makna makna. Istilah makna di dalam bahasa Inggris merupakan padanan dari istilah sense, dan istilah arti merupakan padanan dari istilah meaning. Subuki (2011: 24-25) mengutip dari Crystal (2008: 298), Trask (1999: 120), Richards dan Schmidt (2002: 323), dan Bussmann (1996: 732-733) membatasi konsep meaning atau arti sebagai dimensi operasional untuk analisis bahasa (linguistik), karakteristik bentuk bahasa (linguistik) yang dapat digunakan untuk maksud tertentu, sesuatu yang terekspresikan melalui bahasa, dan dimensi luar bahasa dari ungkapan bahasa (Subuki, 2011: 24-25).

Mengutip dari Pradopo (1987: 15), rangkaian fonem, suku kata, frasa, dan kalimat merupakan satuan arti. Rangkaian kalimat yang menjadi bait dapat membentuk kebulatan makna utuh yang memunculkan sebuah gambaran dunia imajinasi (W.S., 2012: 29).

Sementara, makna bisa disebut sebagai 'maksud', 'arti', 'tanda', 'menandai', atau 'berarti' (Djajasudarma, 1999: 1). Menurut Cruse (2006: 162-163), makna  atau sense memiliki tiga dimensi, yaitu makna dibangun oleh hasil hubungan arti kata dengan kata lainnya dalam sebuah bahasa, makna sebagai bentuk bahasa yang digunakan untuk maksud tertentu, dan makna merupakan arti yang dapat dibeda-bedakan (distinguishable meaning) seperti arti yang ada dalam kamus (Subuki, 2011: 23).

Lebih lanjut, Rahardjo (2007: 57) mendefinisikan makna sebagai objek, arti, pikiran, gagasan, konsep atau maksud yang diberikan oleh penulis, pembaca, atau penutur terhadap suatu bentuk kebahasaan baik berupa kata, kalimat, maupun wacana (Rahardjo, 2007: 57). Dengan demikian, makna memiliki definisi lebih kompleks daripada arti. Sedangkan arti merupakan perwujudan aktual dari makna.

JENIS-JENIS ARTI

Makna dan arti memiliki hubungan sangat dekat, namun arti memiliki hubungan yang lebih spesifik dengan sebuah kata. Hal tersebut untuk mewakili entitas yang menjadi tujuan atau maksud dari penutur (penyair). Sebelum menganalisis sebuah puisi, penikmat atau pembaca puisi haruslah mengetahui beberapa makna dan arti. Sebenarnya, makna dan arti memiliki banyak jenis. Dalam hal ini, penulis menyampaikan beberapa jenis arti yang berhubungan dengan unsur makna yang terdapat dalam puisi.
  1. Arti Leksikal
    Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia Luar Jaringan, leksikal adalah sesuatu yang berkaitan dengan kata atau kosakata (Setiawan, 2013). Mengutip dari Bussmann (1999: 678), arti leksikal adalah:
    Aspek arti yang dikodifikasikan (aturan baku) dalam leksikon (kosakata) atau di dalam kamus, aspek arti yang dapat dianalisis, dan aspek arti yang bersama arti dari elemen gramatikal seperti modal, kala, dan perbandingan. Membentuk arti suatu ungkapan linguis secara keseluruhan.
    Sementara Subuki (2011: 46-47) memberikan definisi arti leksikal ke dalam tiga dimensi: (1) arti leksikal adalah arti dari kata penuh (full word), kata berisi (content word), atau kata yang termasuk dalam kelas kata terbuka (open class); (2) arti leksikal itu kaya dan kompleks; (3) arti leksikal membentuk arti suatu ungkapan bahasa (linguistik) secara keseluruhan (Subuki, 2011: 46-47). Seperti arti yang melekat pada waktu dan uang adalah arti leksikal.
  2. Arti Denotatif dan Konotatif
    Dalam puisi, pembicaraan diksi ialah tentang denotasi dan konotasi. Penyair atau pencipta puisi harus memahami denotasi dan konotasi memilih kata-kata supaya tepat dan menimbulkan gambaran yang jelas dan padat. Mengutip dari Altenbernd (1970: 9), sebuah kata itu memiliki dua aspek arti, yaitu denotasi dan konotasi (Pradopo, 2012: 58).
    Denotasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Luar Jaringan adalah makna kata atau kelompok kata yang didasarkan atas penunjukan yang lugas pada sesuatu di luar bahasa atau yang didasarkan atas konvensi tertentu dan bersifat objektif (Setiawan, 2013). Definisi tersebut juga sesuai dengan yang disampaikan oleh Hartmann dan James (1998: 36), denotasi adalah aspek arti yang menghubungkan sebuah kata atau frasa pada acuan objektif yang dimaksudnya (Subuki, 2011: 53).
    Mengutip dari Wellek (1968: 22), denotasi sebuah kata adalah definisi kamusnya, yakni pengertian yang menunjuk benda atau hal yang diberi nama dengan kata yang disebutkan dan diceritakan. Bahasa yang denotatif adalah bahasa yang menuju kepada korespondensi satu lawan satu antara tanda (kata itu) dengan (hal) yang ditunjuk (Pradopo, 2012: 58). Dalam membaca sajak orang harus mengerti arti kamusnya atau arti denotatif, orang harus mengerti apa yang ditunjuk oleh tiap-tiap kata yang dipergunakan. Namun dalam puisi (karya sastra pada umumnya), sebuah kata tidak hanya mengandung aspek denotasinya saja. Bukan hanya berisi arti yang ditunjuk saja, masih ada arti tambahannya, yang ditimbulkan oleh asosiasi-asosiasi yang keluar dari denotasinya. Kumpulan asosiasi-asosiasi perasaan yang terkumpul dalam sebuah kata diperoleh dari setting yang dilukiskan itu disebut konotasi. Konotasi menambah denotasi dengan menunjukkan sikap-sikap dan nilai-nilai, dengan memberi daging (menyempurnakan) tulang-tulang arti yang telanjang dengan perasaan atau akal (Pradopo, 2012: 60-61).
    Mengutip dari Hartmann dan James (1998: 28) dan Crystal (2008: 102), konotasi adalah aspek arti dari kata atau frasa yang diasosiasikan dengan nada tambahan yang bersifat emotif (Subuki, 2011: 49).
  3. Arti Literal dan Nonliteral
    Arti literal dalam Bahasa Inggris disebut literal meaning. Arti literal maksudnya ialah arti dasar (harfiah) dari kata atau frasa yang tidak bersifat metaforis. Sedangkan arti nonliteral berkaitan dengan bahasa figuratif atau figurative language. Dalam hal ini, bahasa figuratif biasanya menggunakan gaya bahasa perbandingan, pertentangan, pertautan, dan perulangan (Subuki, 2011: 51).
Di dalam puisi, makna adalah tujuan yang dibuat oleh penyair melalui unsur-unsur seperti pemilihan kata, pembentukan larik, atau bait. Makna bisa menjadi isi dan pesan dari puisi tersebut. Melalui makna inilah misi penulis puisi disampaikan. Sementara dalam bahasa, makna memiliki relasi satu sama lain. Berikut ini adalah relasi makna yang saling berhubungan:
  • Homonimi
    Homonimi adalah relasi makna antarkata yang ditulis sama atau dilafalkan sama, tetapi maknanya berbeda. Ada dua jenis homonimi: kata-kata yang ditulis sama tetapi maknanya berbeda disebut homograf, sedangkan yang dilafalkan sama tetapi berbeda makna disebut homofon (Darmojuwono, 2009: 116). Contoh:
    Senja di Pelupuk Mata
    .....
    Deretan serimu sodorkan seri
    Garisan di matamu, entah aisedow atau ailainer
    aku tak tahu namanya, tampak nyata
    .......dst
                (Herry Oktav, Puisi Senja, 2014)
    Kata yang digarisbawahi merupakan contoh relasi makna homonimi homograf yaitu memiliki tulisan yang sama tapi bermakna beda. Seri pada kata serimu maksudnya deretan gigi seri (séri), sedangkan seri yang kedua maksudnya bercahaya atau cantik.
  • Polisemi
    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Luar Jaringan, polisemi adalah bentuk bahasa (kata, frasa, dan lain-lain) yang memiliki makna lebih dari satu (Setiawan, 2013). Polisemi berkaitan dengan kata atau frasa yang memiliki beberapa makna yang berhubungan. Hubungan antarmakna disebut polisemi (Darmojuwono, 2009:117). Waridah (2013: 100) menyebut polisemi sebagai bentuk yang memiliki makna ganda yang bertalian (Waridah, 2013: 100). Contoh:
    Demam Rindu

                        Buat Rinrin Sri Annisa

    Biarkan waktu yang 'kan menjawab
    Semua teka-teki keraguan kita
    Sebab yakin bukan soal memaksa.
    Adakah cinta yang ingin terlantar?
    Adakah cinta yang ingin sendiri
    Ketika sepi menegaskan diri?

    Aku mendemamkanmu dalam rindu
    Di tiap guguran malam yang memaksa pagi menimang fajar
    Isak tangis hangatnya membuat tanah, air, dan udara pasrah.
    Kautahu, aku menanam namamu di kebun pikiranku setahun lalu
    Saat aku belum tahu betul cara menghafal sebuah nama dengan baik.
    Kini, ia telah menjelma perdu rambati tubuhku seluruh.
    Dan kautahu, sama sekali aku tak ingin lepas dari jeratnya, selamanya.
                                                    (Oky Primadeka, Puisi Waktu, 2014)
    Kata demam dalam judul atau mendemamkanmu yang digarisbawahi memiliki relasi makna polisemi. Polisemi sangat erat kaitannya dengan kamus, karena tiap kata yang terdapat dalam kamus memiliki makna yang beraneka ragam. Kata demam ketika dilihat dalam kamus memiliki beberapa makna. Demam dapat berarti sakit, dan demam dapat juga berarti tergila-gila.
  • Sinonimi dan Antonimi
    Sinonimi adalah relasi makna antarkata yang maknanya sama atau mirip. Sinonimi mutlak sangat jarang ditemukan pada bahasa manapun, tetapi ada beberapa hal yang menyebabkan munculnya sinonimi, yaitu karena penilaian rasa yang berbeda, kondisi sesuatu, dan hubungan. Misalnya makna kata rumah yang bersinonimi dengan gubug, wisma, istana, atau kata pekerja bersinonimi dengan karyawan, pegawai, buruh, dan pelayan (Darmojuwono, 2009: 117).
    Dalam penentuan sinonimi dapat dilakukan dengan tiga cara. Pertama, metode substitusi, menggantikan suatu kata dalam konteks tertentu dengan kata lain makna konteks tidak berubah. Kalimat Aku adalah binatang jalang akan mudah dipahami pada saat kata binatang diganti dengan kata hewan atau satwa. Kedua, metode pertentangan, mencari pertentangan suatu kata dengan sejumlah kata sehingga akan membentuk sinonimi. Misalnya kata call dalam Bahasa Inggris, bertentangan dengan kata answer dan reply. Sinonimi akan terjadi pada kata answer dan reply. Ketiga, penentuan konotasi, kata-kata yang memiliki kesamaan makna kognitif dan berbeda dalam makna emotif. Kata-kata seperti kamar kecil, kakus, jamban, WC, dan toilet mengacu pada benda yang sama yang berkonotasi berbeda (Palmer, 1976: 63).
    Sedangkan antonimi atau oposisi adalah relasi antarkata yang bertentangan atau berkebalikan maknanya. Ada istilah antonimi digunakan untuk oposisi makna dalam pasangan leksikal bertaraf, seperti panas dan dingin. Antonimi ini disebut bertaraf karena antara panas dan dingin masih ada kata-kata lain seperti hangat. Atau kata siang dan malam disebut antonimi bertaraf karena masih ada kata pagi, petang, sore, dini hari. Ada juga istilah pasangan leksikal tidak bertaraf yang maknanya bertentangan, disebut oposisi komplementer, seperti jantan dengan betina (Darmojuwono, 2009: 118).
  • Hiponimi dan Hiperonimi
    Hiponimi adalah relasi makna yang berkaitan dengan peliputan makna spesifik dalam makna generik, seperti kata mawar dalam makna bunga, makna kucing dalam makna binatang. Anggrek, mawar, aster, melati dan tulip berhiponimi dengan bunga, sedangkan kucing, anjing, kambing, ayam, dan kuda berhiponimi dengan binatang. Bunga merupakan superordinat (hiperonim) bagi anggrek, mawar, aster, melati, dan tulip, sedangkan binatang menjadi superordinat bagi kucing, anjing, kambing, ayam,  dan kuda (Darmojuwono, 2009: 118).
    Contoh dalam penggalan sajak karya Chairil Anwar berjudul Aku (Octavo, 2014: 12).
    Aku
    .....
    Tak perlu sedu sedan itu
    Aku ini binatang jalang
    Dari kumpulannya terbuang
    ..... dst
               (Chairil Anwar, Kerikil Tajam)
    Kata binatang memiliki makna generik atau disebut hiperonim. Sedangkan hiponimi dari kata binatang bisa ditempati (berhiponim) dengan kata-kata seperti kucing, kambing, serigala, dan lain-lain. Sehingga Waridah (2013: 101) menyebut hiponim sebagai bentuk yang maknanya terangkum dalam hiperonim, atau subordinatnya, atau superordinatnya, yang mempunyai makna yang lebih luas (Waridah, 2013: 101).
  • Meronimi
    Meronimi adalah relasi makna yang memiliki kemiripan dengan hiponimi karena relasi maknanya bersifat hierarkis, namun tidak menyiratkan pelibatan searah, tetapi merupakan relasi makna bagian dengan keseluruhan. Contohnya atap bermeronimi dengan rumah (Darmojuwono, 2009: 119). Istilah meronimi ialah wujud atau entitas yang ditunjuknya merupakan bagian dari wujud atau entitas lain yang menyeluruh atau holonim (Waridah, 2013: 102). Contoh:
    Demam Rindu
    .....
    Saat aku belum tahu betul cara menghafal sebuah nama dengan baik.
    Kini, ia telah menjelma perdu rambati tubuhku seluruh.
    .....
                                                   (Oky Primadeka, Puisi Waktu, 2014)
    Dalam puisi di atas, kata tubuhku memiliki meronimi atau relasi makna keseluruhan dan memiliki kedudukan lebih tinggi daripada kata bagiannya. Di dalam tubuh ada kepala, leher, dada, lengan, dan tungkai. Kata kepala bermeronimi dengan rambut, dahi, mata, hidung, telinga, dan mulut. Kata mulut bermeronimi dengan lidah, gigi, dan bibir. Kata bibir bermeronimi dengan bibir atas dan bibir bawah.
  • Makna Asosiatif dan Afektif
    Makna asosiatif adalah makna yang dipengaruhi oleh unsur mental, pengetahuan, dan pengalaman seseorang. Objek makna asosiatif cenderung sama dengan makna denotatif, sesuai dengan kenyataan. Misalnya kata gubug bermakna denotatif 'tempat berteduh di sawah'. Selain itu, gubug bermakna asosiatif kecil, pedesaan, teduh, dan damai. Sedangkan makna afektif adalah makna yang berhubungan dengan perasaan seseorang pada saat mendengar atau membaca suatu kata. Ini bisa menjadi positif dan negatif. Penilaian rasa atas sebuah kata istilah yang termasuk di dalam konotasi. Kata jujur-bijaksana memiliki nilai yang positif. Sebaliknya, kata korupsi-egois berkonotasi negatif.  Salah satu fungsi makna asosiatif dan afektif adalah memunculkan kesan yang mudah diterima oleh seorang pembaca atau pendengar suatu kalimat yang dimaksudkan untuk umum, seperti iklan (Darmojuwono, 2009: 119-120).
  • Makna Situatif
    Kata-kata yang memiliki fungsi yang bersangkutan dengan hal atau fungsi yang menunjuk sesuatu di luar bahasa, seperti pronomina persona saya, aku, kamu, anda; pronomina penunjuk ini dan itu; nomina yang merupakan keterangan waktu lusa, kemarin, besok, atau minggu depan; dan keterangan tempat di sini, di sana, di situ; merupakan makna referensialnya yang terkait dengan situasi pembicaraan (Darmojuwono, 2009: 120) atau dalam hal ini penyair atau pencipta puisi menuangkan idenya ke dalam tulisan berbentuk puisi. Contoh:
    Demam Rindu
    ....
    Kautahu, aku menanam namamu di kebun pikiranku setahun lalu
    Saat aku belum tahu betul cara menghafal sebuah nama dengan baik.
    Kini, ia telah menjelma perdu rambati tubuhku seluruh.
                                                   (Oky Primadeka, Puisi Waktu, 2014)
    Kata setahun lalu merupakan makna situatif yang dibuat pencipta puisi untuk menerangkan bahwa sosok 'aku' mengenal 'namamu' setahun yang lalu.
SENSE ATAU MAKNA

Seperti disebutkan sebelumnya, sense diartikan dalam Bahasa Indonesia sebagai makna. Mengutip Aminuddin (1987: 150), sesuatu yang diciptakan atau dikembangkan oleh penyair lewat puisi yang dihadirkannya disebut sense. Terdapatnya sense dalam suatu puisi, pada dasarnya akan berhubungan dengan gambaran dunia atau makna puisi secara umum yang ingin diungkapkan penyairnya (Saury, http://catatan-sauri.blogspot.com/2012/04/puisi-dan-struktur-pembangunnya.html, akses 25 April 2014).

Tarigan (2011: 10) menyebut sense sama dengan tema atau makna. Menurutnya, penyair mengemukakan, mempersoalkan, dan mempermasalahkan pengalaman-pengalamannya kepada penikmat melalui puisinya sehingga dapat menimbulkan makna tertentu (Tarigan, 2011: 10).

Contoh (Tarigan, 2011: 10-11): 
Kembang Setengah Jalan

Mejaku hendak dihiasi
Kembang jauh dari gunung
Kaupetik sekarangan kembang,
Jauh jalan panas hari,
Bunga layu setengah jalan.
                  (Armijn Pane, Jassin, 1963: 88)
Sense atau makna yang didapat dari puisi di atas adalah "sesuatu yang tak sampai". Sesuatu itu adalah kembang yang melambangkan kasih, cinta, atau wanita. Makna atau sense yang didapat dari sajak di atas adalah kasih tak sampai atau cinta yang bertepuk sebelah tangan (Tarigan, 2011: 11).

SUBJECT MATTER ATAU POKOK PIKIRAN

Subject matter merupakan pokok pikiran yang dikemukakan penyair lewat puisi yang diciptakannya (Aminuddin, 1987:150). Bila sense berhubungan dengan gambaran makna dalam puisi secara umum, maka subject matter berhubungan dengan satuan-satuan pokok pikiran tertentu yang secara khusus membangun sesuatu yang diungkapkan penyair. Subject matter yang dimaksud adalah seperti pengulasan pada setiap baitnya yang kemudian dibentuk paragraf atas pokok-pokok pikiran sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam puisi tersebut pokok pikiran antara yang satu dengan yang lainnya begitu erat berkaitan (Saury, http://catatan-sauri.blogspot.com/2012/04/puisi-dan-struktur-pembangunnya.html, akses 25 April 2014).

Setiap puisi mengandung subject matter untuk dikemukakan atau ditonjolkan berdasarkan beberapa pengalaman falsafah hidup, lingkungan, agama, pekerjaan, dan pendidikan penyair atau pencipta puisi (Tarigan, 2011: 11).

FEELING ATAU RASA

Adapun mengenai sikap penyair terhadap pokok pikiran yang ditampilkannya disebut dengan feeling (Aminuddin, 1987:150). Feeling mungkin saja terkandung dalam lapis makna puisi sejalan dengan terdapatnya pokok pikiran dalam puisi karena setiap menghadirkan pokok pikiran tertentu, manusia pada umumnya juga dilatarbelakangi oleh sikap tertentu pula. Pembahasan mengenai feeling tidak terlepas dari pembahasan subject matter. Sikap penyair terhadap apa yang ditampilkan lewat puisinya tersebut akan tercermin ketika pokok pikiran penyair terhadap puisinya sudah diketahui terlebih dahulu (Saury, http://catatan-sauri.blogspot.com/2012/04/puisi-dan-struktur-pembangunnya.html, akses 25 April 2014).

Sama seperti Tarigan (2011: 12) yang menyebutkan rasa atau feeling merupakan sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terkandung dalam puisinya (Tarigan, 2011: 12). Perasaan penyair dalam puisinya dapat ditangkap saat puisinya dibacakan secara deklamasi. Penggunaan ungkapan-ungkapan yang digunakan dalam puisinya dapat menghasilkan suasana hati penyair, seperti perasaan gembira, sedih terharu, terasing, tersinggung, patah hati, sombong, tercekam, cemburu, kesepian, takut, dan menyesal (Waluyo, 2002: 39-40).

Contoh (Admin, http://kolibet.blogspot.com/2014/03/langkahmu-ayah.html, akses 26 April 2014): 
Langkahmu Ayah

Tap tap
Langkah itu buatku berlari ke depan pintu
Bukan untuk sebungkus permen atau sekotak kue
Bukan untuk rengekan tambahan jajan
Tapi sebuah pelukan hangat dan kebahagiaan
Dari lengkung senyumnya yang letih menawan

Tap tap
Langkah itu berlari cepat ke arahku
Saat ragaku tak seimbang lalu jatuh
Saat jiwaku rapuh seakan dunia 'kan runtuh

Tap tap
Langkahnya mantap namun berat
Sepatunya disemir hingga hitam mengkilat
Tangannya memegang lenganku kuat
Menuntunku pada langkah awal yang baru

Tap tap
Tongkat topang kakinya lemah
Mendekatiku dengan langkah payah
Kerutan dan rambut putihnya bertambah
Tapi pelukannya masih sehangat dulu
Lengkung senyumnya masih semenawan dulu

Tap tap
Langkahku mulai goyah
Mengantarkan pada langkahnya yang terakhir
Langkahmu Ayah...
                             (Yuni Budiawati, Puisi Sepatu, 2014)
Puisi di atas menggambarkan sikap penyair terhadap pokok persoalan yang ditampilkan dalam puisinya, yakni perasaan sedih dan haru.

TONE ATAU NADA

Tone mengandung maksud sikap penyair terhadap pembaca sejalan dengan pokok pikiran yang ditampilkannya (Admin, http://catatan-sauri.blogspot.com/2012/04/puisi-dan-struktur-pembangunnya.html, akses 25 April 2014). Tarigan (2012: 18) juga menyebutkan bahwa nada adalah sikap penyair terhadap para penikmatnya. Sebuah puisi akan bernada "sumbang" bila puisi bertema kegagalan (Tarigan, 2012: 18).

Dalam puisi, nada atau tone mengungkapkan sikap penyair terhadap pembaca sehingga menimbulkan suasana puisi. Penyair memiliki sikap tertentu yang ditujukan kepada pembacanya melalui puisi yang bernada sinis, protes, menggurui, memberontak, main-main, serius, patriotik, belas kasih (memelas), takut, mencekam, santai, masa bodoh, pesimis, humor, mencemooh, angkuh, kharismatik, filosofis, khusyuk, dan sebagainya (Waluyo, 2002: 37).

Contoh (Admin, http://kolibet.blogspot.com/2014/03/gila-hormat.html, akses 26 April 2014):
Gila Hormat
gila kuasa
                  gila tepuk tangan
                                 gila eksistensi
                                            tak gila esensi
                                                       esensi gila
                                           lawan malas
                      tolak ingin dihargai
           ini esensi eksistensi
ingin dihargai
           berapa hargamu?
                      murah atau mahal?
                                 itu masuk akal atau banal?
                                            gila saja terus
                                                      bawa cermin
                                                                  hormat di depannya
                                                                             pasti tambah gila
                                                      sudah hormat pada dirimu sendiri?
                                                                 bagaimana pendapatmu?
                                                                 apa ada caci maki?
                                    GILA HORMAT! BANGSAAAT!
                             GILA HORMAT! BANGSAAAT!
                     GILA HORMAT! BANGSAAAT!
                                      caci maki saja terus
                                                   bercermin terus
                                                             jangan berhenti
                                                                    awas kacanya mati
                                                     (Faliq Ayken, Puisi Penjajahan, 2014)
Puisi di atas menunjukkan sikap penyair yang bernada sinis atau tidak setuju terhadap seseorang yang ingin selalu dihormati. Dan jika dideklamasikan dengan lantang, tentu akan menemukan efek tertentu saat membaca atau mendengar puisi tersebut.

TOTALITY OF MEANING ATAU TOTALITAS MAKNA

Totality of meaning (totalitas makna) adalah keseluruhan makna yang terdapat dalam satu puisi (Aminuddin, 1987:151). Penentuan totalitas makna puisi berdasarkan atas pokok-pokok pikiran yang ditampilkan penyair, sikap penyair terhadap pokok pikiran, serta sikap penyair terhadap pembaca. Menganalisis dengan tahapan ini, tidak dapat meninggalkan tahapan-tahapan sebelumnya, sebab tahapan sebelumnya merupakan suatu korelasi yang tidak dapat terpisahkan satu dengan lainnya (Saury, http://catatan-sauri.blogspot.com/2012/04/puisi-dan-struktur-pembangunnya.html, akses 25 April 2014).

Untuk mencapai atau mendapatkan totality of meaning (totalitas makna), pembaca atau penikmat harus sudah mendapatkan atau memahami subject matter, feeling, dan tone suatu puisi.

THEME ATAU TEMA

Mengutip dari Aminuddin (1987: 151), ide dasar dari suatu puisi yang menjadi inti dari keseluruhan makna dalam suatu puisi itulah yang dimaksud dengan theme atau tema. Tema berbeda dengan pandangan moral ataupun message meskipun tema itu dapat berupa sesuatu yang memiliki nilai rohaniah. Disebut tidak sama dengan pandangan moral maupun message karena tema hanya dapat diambil dengan jalan menyimpulkan inti dasar yang terdapat dalam totalitas makna puisi, sedangkan pandangan moral atau message dapat saja terdapat dalam butir-butir pokok pikiran yang ditampilkannnya. Dengan kata lain, bidang cakupan tema lebih luas daripada pandangan moral maupun message (Saury, http://catatan-sauri.blogspot.com/2012/04/puisi-dan-struktur-pembangunnya.html, akses 25 April 2014).

Waluyo (2002: 17) menyebutkan, tema adalah gagasan pokok atau subject matter yang dikemukakan oleh penyair melalui puisinya. Tema atau theme haruslah bersifat khusus, objektif, dan lugas. Berikut ini adalah beberapa tema yang biasa ditemukan dalam puisi (Waluyo, 2002: 18):
  1. Tema Ketuhanan
    Tema ketuhanan atau tema religius filosofis ialah tema puisi yang mampu membawa manusia untuk lebih bertakwa, lebih merenungkan kekuasaan tuhan, dan menghargai alam seisinya (Waluyo, 2002: 18-19). Berikut adalah contoh puisi bertema ketuhanan (Admin, http://kolibet.blogspot.com/2014/04/ritual-tengah-malam.html, akses 26 April 2014):
    Ritual Tengah Malam

    Setiap malam, kulihat kaukeluar kamar
    menyalakan lampu untuk memastikan masihkah ada cahaya
    dalam gelap yang beberapa jam lalu, sebelum kautidur,
    lampu-lampu itu tidur tak mendengkur.

    Langkahmu menuju ruang belakang: kamar mandi, dapur, dan meja makan
    Disebut yang pertama kauada di dalamnya,
    mengambil air wudu yang kaugunakan untuk basah-basahan,
    membasuh dan mengusap anggota tubuh yang perlu disetubuhi air.

    Tengah malam, kaumulai berzikir dan berucap Bismillahirrahmanirrahim
    Aku melihat dan mendengarnya dengan mata dan telinga yang terjaga
    Kauambil secarik kertas, pulpen, dan pikiranmu yang kauletakkan di atas meja
    Kaumerapal kata-kata, "Ritual tengah malam ini adalah nutrisi untukku
    dan juga untuk orang-orang yang ingin berteman dengan kata-kata
    seperti para pujangga."
    "Ritual tengah malam ini adalah tangga awal untuk dipijak
    agar kuat melangkah pada pijakan-pijakan tangga selanjutnya."

    Pada pertengahan ritual, matamu jatuh di atas meja tanpa kausadari,
    ia berkedip sebagai tanda lelah. Kaumengacuhkannya
    Kauambil matamu itu dan kauletakkan ke tempat semula
    Kaulanjutkan tarian-tarian jemarimu dengan sukacita
    Matamu nanar, melihat jemarimu tanpa beban bergoyang ke kiri ke kanan
    Sampai azan subuh berkumandang, kauberhenti.

    Melanjutkan perjalanan!
                                                                (Faliq Ayken, Puisi Malam, 2014)
    Dalam puisi di atas, penyair menceritakan seseorang yang bertakwa. Tiap tengah malam sosok kau melakukan aktivitas beribadah yang menggunakan kata ritual. Kebiasaan ritual ini sepatutnya diterapkan di kehidupan sehari-hari agar selalu dekat dengan Tuhan.
  2. Tema Kemanusiaan
    Tema ini berisi tentang nilai-nilai kemanusiaan yang menyangkut martabat manusia seperti saling menghargai, menghormati, adil, dan manusiawi. Berikut adalah contoh puisi bertema kemanusiaan (Waluyo, 2002: 19-20):
    Gadis Peminta-minta

    Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil
    Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka
    Tengadah padaku, pada bulan merah jambu
    Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa

    Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil
    Pulang ke bawah jembatan yang melulur sosok
    Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan
    Gembira dari kemayaan riang

    Duniamu yang lebih tinggi dari menara katedral
    Melintas-lintas di atas air kotor, tapi yang begitu kauhafal
    ....................................................
                                (Toto Soedarto Bachtiar, Suara, 1956)
    Penyair mengungkapkan bahwa gadis kecil berkaleng kecil itu harus dihargai, diperhatikan, dan manusia yang memiliki martabat yang mungkin lebih tinggi dari menara katedral.
  3. Tema Patriotisme
    Puisi bertema patriotisme, penyair mangajak pembaca untuk meneladani orang-orang yang telah berkorban demi bangsa dan tanah air. Berikut adalah contoh puisi bertema patriotisme (Waluyo, 2002: 21-22):
    Diponegoro

    Di masa pembangunan ini
    Tuan hidup kembali
    Dan bara kagum menjadi api
    Di depan sekali tuan menanti
    Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali
    Pedang di kanan, keris di kiri
    Berselubung semangat yang tak bisa mati

    Maju
    Ini barisan tak bergenderang-berpalu
    Kepercayaan tanda menyerbu
    Sekali berarti
    Sudah itu mati
    ............ .
    Maju
    Serbu
    Serang
    Terjang
                             (Chairil Anwar, Kerikil Tajam, 1978)
  4. Tema Cinta Tanah Air
    Waluyo (2002: 23-24) membedakan puisi bertema patriotisme dan cinta tanah air. Puisi bertema patriotisme mengungkapkan perjuangan membela bangsa dan tanah air, sedangkan puisi bertema cinta tanah air berupa pujian kepada tanah kelahiran atau negeri tercinta. Berikut adalah contoh puisi bertema cinta tanah air (Waluyo, 2002: 23-24):
    Tanah Sunda

    Ke mana pun berjalan, terpandang
    daerah ramah di sana
    Ke mana pun ngembara, kujumpa
    manusia hati terbuka
    mesra menerima
    ................
    Riak sungai pagi-pagi
    Angin keras menyibak rambut di dahi
    Dan kulihat tanah penuh darah
    tubuh beku berbaring kuyu
    menggapai tangan sia-sia
    berseru pun sia-sia

    Ah, di mana pun kaubukakan rangkuman
    Ku kan menetap di sana
    Kapan pun kaulambaikan tangan
    Ku kan datang
    menekankan jantung ke tanah hitam
                                    (Ajip Rosidi, Surat Cinta Enday Rasidin, 1960)
    Penyair menunjukkan cinta kepada tanah kelahiran melalui puisinya. Tanah kelahirannya, Sunda, merupakan daerah yang ramah, orang-orangnya selalu mesra menerima si penyair.
  5. Tema Cinta Kasih antara Pria dan Wanita
    Puisi banyak yang bertema cinta kasih antara pria dan wanita. Penyair biasanya berusaha mengungkapkan rasa cintanya kepada seseorang melalui puisinya. Beberapa puisi memiliki tema cinta yang meliputi perkenalan, asmara, perpisahan, atau cinta yang bertepuk sebelah tangan (Waluyo, 2002: 24). Berikut ini adalah puisi yang bertema cinta antara pria dan wanita (Admin, http://kolibet.blogspot.com/2014/04/demam-rindu.html, akses 26 April 2014):
    Demam Rindu

                         Buat Rinrin Sri Annisa

    Biarkan waktu yang 'kan menjawab
    Semua teka-teki keraguan kita
    Sebab yakin bukan soal memaksa.
    Adakah cinta yang ingin terlantar?
    Adakah cinta yang ingin sendiri
    Ketika sepi menegaskan diri?

    Aku mendemamkanmu dalam rindu
    Di tiap guguran malam yang memaksa pagi menimang fajar
    Isak tangis hangatnya membuat tanah, air, dan udara pasrah.
    Kautahu, aku menanam namamu di kebun pikiranku setahun lalu
    Saat aku belum tahu betul cara menghafal sebuah nama dengan baik.
    Kini, ia telah menjelma perdu rambati tubuhku seluruh.
    Dan kautahu, sama sekali aku tak ingin lepas dari jeratnya, selamanya.
                                                     (Oky Primadeka, Puisi Waktu, 2014)
    Puisi di atas, penyair mengungkapkan perasaan cintanya terhadap sosok wanita yang telah diidamkan sangat lama. Aku mendemamkanmu dalam rindu menunjukkan bahwa penyair dilanda rindu yang sangat mendalam sehingga diibaratkan sakit demam. Dan kautahu, sama sekali aku tak ingin lepas dari jeratnya, selamanya merupakan maksud yang ingin disampaikan penyair bahwa cintanya tak akan dilepaskan begitu saja.
  6. Tema Kerakyatan
    Dalam tema ini, penyair mengungkapkan bahwa rakyat memiliki kekuasaan dan dapat menentukan pemerintahan suatu negara. Berikut ini adalah puisi yang bertema kerakyatan atau demokrasi (Waluyo, 2002: 27-28):
    Rakyat

    Rakyat ialah kita
    jutaan tangan yang mengayun dalam kerja
    di bumi di tanah tercinta
    jutaan tangan mengayun bersama
    membuka hutan lalang jadi ladang-ladang berbunga
    mengepulkan asap dari cerobong pabrik-pabrik di kota
    menaikkan layar menebar jala
    meraba kelam di tambang logam dan batubara
    Rakyat ialah tangan yang bekerja

    Rakyat ialah kita
    otak yang menapak sepanjang jemaring angka-angka
    ................ .
    Rakyat ialah kita
    beragam suara di langit tanah tercinta
    suara bangsi di rumah berjenjang
    bertangga
    suara kecapi di pegunungan jelita
    suara bonang mengambang di pendapa
    suara kecak di muka pura
    suara tifa di hutan pala
    Rakyat ialah suara beraneka.

    Rakyat ialah kita
    puisi kaya makna di wajah semesta
    ................. .
    awan menyimpan topan
    Rakyat ialah puisi di wajah semesta

    Rakyat ialah kita
    darah di tubuh bangsa
    debar sepanjang masa
                                     (Hartoyo Andangjaya, Buku Puisi, 1973)
    Dalam puisi ini penyair mengungkapkan bahwa rakyat sangat berkuasa dengan menyebutnya darah di tubuh / debar sepanjang masa yang berarti menjadi darah bangsa Indonesia dan jantung bangsa sepanjang masa.
  7. Tema Protes Sosial
    Puisi bertema protes atau kritik sosial menonjolkan puisi yang menuntut keadilan bagi kaum tertindas. Tema ini akan menampilkan puisi yang mengungkapkan protes terhadap ketidakadilan yang dilakukan oleh kaum kaya, atau bahkan negara terhadap rakyat jelata (Waluyo, 2002: 28). Berikut ini adalah contoh puisi bertema protes sosial (Admin, http://kumpulanfiksi.wordpress.com/2011/09/03/puisi-puisi-wiji-thukul/, akses 26 April 2014):
    Peringatan

    Jika rakyat pergi
    Ketika penguasa pidato
    Kita harus hati-hati
    Barangkali mereka putus asa

    Kalau rakyat bersembunyi
    Dan berbisik-bisik
    Ketika membicarakan masalahnya sendiri
    Penguasa harus waspada dan belajar mendengar

    Bila rakyat berani mengeluh
    Itu artinya sudah gawat
    Dan bila omongan penguasa
    Tidak boleh dibantah
    Kebenaran pasti terancam

    Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
    Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
    Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
    Maka hanya ada satu kata: lawan!
                                             (Wiji Thukul, 1986)
    Contoh lain ialah:
    Bencana Koruptor

    Lindu gempa sudah berlalu
    Rumah beta disinggahi kotor
    Untuk apa ada pemilu
    Bila negara dipenuhi koruptor
                                   (Herry Oktav, 2014)
    Dalam puisi Peringatan karya Wiji Thukul mengungkapkan kritik dan protesnya terhadap pemerintah yang pada waktu itu seolah menjadi tirani. Penyair memprotes pemerintah agar selalu belajar mendengar keluh-kesah rakyatnya. Bahkan, jika suara rakyat dibungkam dan kritik rakyat dilarang tanpa alasan, penyair membalasnya dengan kata lawan!. Sedangkan dalam puisi lama (pantun) karya Herry Oktav mengkritik pelaksanaan pemilihan umum (pemilu) yang ujung-ujungnya diisi oleh para koruptor.
  8. Tema Pendidikan
    Puisi bertema pendidikan biasanya menampilkan nilai-nilai budi pekerti atau kebaikan (Waluyo, 2002: 30). Berikut ini adalah contoh puisi bertema pendidikan atau budi pekerti (Admin, http://kolibet.blogspot.com/2014/02/tiga-jendela.html, akses 26 April 2014):
    Tiga Jendela

    Waktu sepi, pelan-pelan kubuka pintu kamar
    Di dalam banyak suara-suara terdengar samar
    Kubawa masuk tubuh dan rasa ingin tahuku
    Pandanganku berhenti pada tiga jendela itu

    Jendela pertama kubuka, masuk ke dalam
    Ruangannya besar penuh tanda-tanda
    Kamar ada: fisika metafisika

    Jendela kedua kubuka pelan-pelan
    Kulihat dengan tatap penuh pertanyaan
    Ruangan ini begitu luas, banyak jebakan
    Sebagai alat berpikir, kusiapkan akal agar tak banal
    Kamar pengetahuan: empiris rasional

    Jendela ketiga kubuka dengan nilai-nilai
    Tempat belajar bagaimana bersikap
    Tempat belajar bagaimana bermasyarakat
    Ujung seluruh pengetahuan yang ada
    Kamar nilai: etika estetika

    Pintu kamar kututup dengan tenang
    Kutetapkan menetap di dalamnya
    Bersama tiga jendela
                                    (Faliq Ayken, Puisi Jendela, 2014)
    Dalam puisi di atas, penyair mengungkapkan nilai pendidikan melalui kata jendela. Pada jendela kedua: kamar pengetahuan yakni empiris rasional seseorang haruslah menggunakan akalnya sebagai alat berpikir. Pada jendela ketiga: kamar nilai etika dan estetika, penyair menjelaskan dan mengajak pembaca bagaimana cara bersikap dan bermasyarakat melalui ilmu filsafat.
KESIMPULAN

Sebagaimana telah disampaikan di atas, ada beberapa macam arti dan relasi makna dalam bahasa, terutama puisi. Jika pembaca menemukan ungkapan waktu adalah uang, maka akan diperoleh beberapa makna dan arti. Arti leksikal dari waktu adalah waktu dan uang adalah uang; arti denotatif dari waktu adalah rangkaian saat proses, perbuatan, atau keadaan berada atau berlangsung, dan uang adalah sebuah alat tukar; arti konotatif dari waktu yang dikaitkan dengan uang ialah rajin atau disiplin (dalam urusan bisnis), atau arti konotatif dari uang yang dikaitkan dengan waktu ialah pandai memanfaatkan waktu.

Ada juga relasi makna seperti homonimi, sinonimi, antonimi, hiponimi dan hiperonimi, meronimi, makna asosiatif, makna afektif, dan makna situatif. Relasi makna ini akan sering ditemukan dalam puisi apabila menganalisis per kata atau frasa.

Selain itu, unsur-unsur makna yang terdapat dalam puisi di antaranya adalah sense atau makna, subject matter atau pokok pikiran, feeling atau perasaan, tone atau nada, totality of meaning atau totalitas makna, dan theme atau tema. Semua unsur makna tersebut merupakan 'senjata' untuk para pembaca puisi dalam menganalisis puisi secara utuh dan penuh.

DAFTAR PUSTAKA

Ayken, Faliq. "Gila Hormat." http://kolibet.blogspot.com/2014/03/gila-hormat.html (akses 26 April 2014).

---------. "Ritual Tengah Malam." http://kolibet.blogspot.com/2014/04/ritual-tengah-malam.html (akses 26 April 2014).

---------. "Tiga Jendela." http://kolibet.blogspot.com/2014/02/tiga-jendela.html (akses 26 April 2014).

Budiawati, Yuni. "Langkahmu Ayah." http://kolibet.blogspot.com/2014/03/langkahmu-ayah.html (akses 26 April 2014).

Darmojuwono, Setiawati. "Semantik," Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik, eds. Kushartanti, Untung Yuwono, Multamia RMT Lauder. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2009.

Djajasudarma, T. Fatimah. Semantik 1: Pengantar ke Arah Ilmu Semantik. Bandung: Refika, 1999.

Palmer, F.R. Semantics: A New Outline. Cambridge: Cambridge University Press, 1976.

Pradopo, Rachmat Djoko. Pengkajian Puisi. Cet. 13. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2012.

Primadeka, Oky. "Demam Rindu." http://kolibet.blogspot.com/2014/04/demam-rindu.html (akses 26 April 2014).

"Puisi dan Struktur Pembangunnya." http://catatan-sauri.blogspot.com/2012/04/puisi-dan-struktur-pembangunnya.html (akses 25 April 2014).

"Puisi-puisi Wiji Thukul." http://kumpulanfiksi.wordpress.com/2011/09/03/puisi-puisi-wiji-thukul/ (akses 26 April 2014).

Rahardjo, Mudjia. Hermeneutika Gadamerian: Kuasa Bahasa dalam Wacana Politik Gus Dur. Malang: UIN-Malang Press, 2007.

Setiawan, Ebta. Kamus Besar Bahasa Indonesia Luar Jaringan. 2010-2013.

Subuki, Makyun. Semantik: Pengantar Memahami Makna Bahasa. Jakarta: Transpustaka, 2011.

Tarigan, Henry Guntur. Prinsip-prinsip Dasar Sastra Rev.ed. Bandung: Angkasa, 2011.
 
Waluyo, Herman J. Apresiasi Puisi: Untuk Pelajar dan Mahasiswa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2002.

Waridah, Ernawati. EYD Ejaan yang Disempurnakan & Seputar Kebahasa-Indonesiaan. Cet.2. Bandung: Ruang Kata, 2013.

W.S., Hasanuddin. Membaca dan Menilai Sajak: Pengantar Pengkajian dan Interpretasi Rev.ed. Bandung: Angkasa, 2012.


* Herry Oktav, nama pena dari Herry Heryanto, mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Ketua Umum FLAT, Foreign Languages Association, 2013-2014.

Read more...

  © KOLIBÉT Komunitas Literasi Alfabét by Ourblogtemplates.com 2014

Log In