Tampilkan postingan dengan label Faliq Ayken. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Faliq Ayken. Tampilkan semua postingan

Sepi Tengah Malam

>> 19/05/15

Faliq Ayken


Kau menidurkan bulan di tempat tidur.
Aku memeluknya dari balik jendela.
Kita sama-sama mempunyai mimpi.
Kau di kasur, aku di pelataran imaji.

Kau mampu menggenapkan bilangan sajak.
Aku tak mampu mengganjilkan jejak.
Setiap malam kita terpisah jarak.
Kau di beranda ingat, aku di dalamnya.

Ada yang tak kupahami tentang perbedaan.
Kau selalu pulang saat matamu terpejam.
Aku menjadi penengah bintang dan bulan.
Saat keduanya berebut sepi pada tengah malam.


Jombang Ciputat,
Minggu, 19 April 2015

Read more...

Untuk Kamu di Kamar Rindu

>> 11/07/14

Faliq Ayken


Hai kamuku, apa kabar? Masihkah kamu di dalam kamar yang
dulu kita cipta dengan sejuta kenangan? Kamu tak perlu jawab,
kalau tak ada jawaban. Aku hanya angin yang menghembuskan
nafas kerinduan.

Kamuku, setahun setelah menikah dengan kekasihku, aku selalu
mengingatmu dari pagi, siang, dan malam. Saat melihat wajah
istriku; saat jalan berdua bercakap tentang dunia perempuan,
kamu melintas tanpa batas; saat melantunkan ayat-ayat Alquran,
kamu melintas di atas larik-larik ayat sambil menggodaku,
bergoyang ke kiri ke kanan; saat menulis sajak cinta, kamu
melangkah diam-diam, menjejak hening tanpa suara.

Di hari pahlawan, 10 November 2012, kamu tak datang di pernikahanku.
Padahal kamu pahlawanku. Sabtu pagi sebelum melafalkan akad nikah,
kutulis sebait sajak, agar kamu tahu bahwa sekarang aku sedang menekuni
dunia kata-kata. Setelah membaca sajak ini, semoga kamu bahagia melihat
kebahagiaan kita.

"Selamat pagi, Tuhan. Hari ini, aku akan menikah dengan perempuan
yang paling kusayang. Berikan kasih sayang-Mu di setiap perjalanan."

Kamuku, istriku selalu menanyakanmu saat kuceritakan semua hal tentangmu.
Mulai dari wajah, rambut, dan tubuhmu. Katanya, "Aku ingin belajar pada
perempuan yang sering kausebut dalam percakapan kita."

Dalam doaku, "Semoga kamu tak kesepian di surga. Jika ingin keramaian,
datanglah ke tempat tinggalku. Jika ingin kehangatan, Tuhan akan selalu
memelukmu."

Surat cinta anakmu,
Liq!


Pondok Petir,
Minggu, 22 Juni 2014

Read more...

Tinta Sapardi

>> 02/07/14

Faliq Ayken


Selamat datang, Juni, masuklah ke dalam sajakku!
Barangkali ada diksi menggigil, memanggil pelukanmu
Selamat menikmati sajakku, Sapardi, bacalah pelan-pelan!
Agar Juni bisa ikutimu, baca sajakku yang bukan sajak hujan

Setiap awal bulan Juni, kudeklamasi sajak-sajakmu, Sapardi
Hujan Bulan Juni, buku sajakmu kubuka kubaca berulangkali
Terkadang tersentak, terbelalak
Terkadang hilang, tak berbilang
Hanyut dalam aliran sungai kata-katamu

Jika saja aku adalah seorang penyair,
akan kusulam kata-kataku dengan jarum-benang milikmu
Jika saja aku adalah Juni,
akan kutulis sajak bukan hujan milikku
tanpa gigil, tanpa gemercik air

"Di balik jendela, kududuk menunggumu dengan dada berdegup kencang.
Buku sajakmu di tangan kiri, pena di tangan kanan.
Pikiran melayang-layang, mata melihat keluar mengharap kaudatang.
Langit-langit mendung, guntur bergemuruh.
Kaudatang, hujan tak juga turun.
Tak akan turun."

Sajak Sapardi berlumuran
Juni berlumuran tinta hitam
Hitam tanda keabadian


Pondok Petir,
Minggu, 1 Juni 2014

Read more...

Pemburu Burung

>> 11/06/14

Faliq Ayken


Menjelang pagi,
burung-burung semakin liar
Ada yang singgah di reranting pepohonan
Ada yang terbang mencarikan
ranting untuk disinggahi

Kami adalah sekelompok orang lapar,
pemburu burung-burung besar
Senjata kami adalah senapan wewangian
Sekali tembak, dada burung-burung meruap-ruap
mati di ruang kenikmatan

Pagi datang, kami pulang
Membawa uang hasil berburu semalam
Burung-burung besar
menjanjikan banyak uang
Burung-burung besar
membuat keluarga pemburu
tak mati kelaparan

Tuhan, memburu kami!


Pondok Petir,
Minggu, 18 Mei 2014

Read more...

Karakteristik Bahasa Puisi: Perbedaannya dengan Karya Sastra Lain dan Diksi Puisi

>> 30/05/14

Faliq Ayken*


Unsur-unsur makna di dalam puisi adalah makalah yang telah dipresentasikan oleh Herry Oktav pada pertemuan sebelumnya. Pada makalah tersebut: sense, subject matter, feeling, tone, totality of meaning, dan theme tersampaikan dengan cukup jelas. Dari mulai makna dan arti puisi, jenis-jenis arti (leksikal, konotatif-denotatif, literal-nonliteral, asosiatif-afektif, situatif), sampai dengan makna tema dalam puisi (Oktav, Makalah, 2014).

Pada pertemuan kali ini, saya akan membincang tentang perbedaan puisi dengan karya sastra lain dan diksi puisi. Kedua tema itu masuk dalam kategori karakteristik bahasa puisi. Karakteristik bahasa puisi tentu tidak hanya kedua tema itu, namun masih ada tema-tema yang lain, yaitu: makna denotasi dan konotasi, bahasa kiasan, pencitraan, retorika, dan gaya bahasa.


PERBEDAAN PUISI DENGAN KARYA SASTRA LAIN

Pada dasarnya karya sastra itu wujud permainan kata-kata pengarang berisikan maksud tertentu yang akan disampaikan kepada pembaca. Pembagian sastra terbagi menjadi tiga, yaitu: puisi, prosa, dan drama. Persamaan dari ketiga bagian itu adalah pada konteks penggunaannya, menggunakan kata-kata indah (Damayanti, 2013: 12). Tentu hal demikian agar karya yang sudah diciptakan semakin menarik. Dalam Buku Praktis Bahasa Indonesia 1 yang diterbitkan oleh Pusat Bahasa Depdiknas, Dendy Sugono (2003: 159) mendefinisikan ketiga jenis sastra tersebut, sebagai berikut:
  • Puisi adalah jenis sastra yang bentuknya dipilih dan ditata dengan cermat sehingga mampu mempertajam kesadaran pembaca akan suatu pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat bunyi, irama, dan makna khusus.
  • Prosa adalah jenis sastra dengan bentuk paragraf yang bebas menggunakan kata-kata yang diinginkan pengarang. Prosa lebih dikenal dengan cerita kehidupan dan bahasa prosa sangat dekat dengan bahasa sehari-hari.
  • Drama adalah jenis sastra yang tujuaannya menggambarkan kehidupan lewat lakuan dan dialog para tokoh. Lazimnya dirancang untuk pementasan di panggung.
Berdasarkan pembagian jenis sastra di atas, bahasa prosa dan drama lebih dekat dengan bahasa sehari-hari (denotatif), sedangkan puisi lebih cenderung menggunakan bahasa konotatif. Walaupun bahasanya dekat dengan bahasa sehari-hari, prosa dan drama tetap menggunakan diksi yang menimbulkan efek dan kesan kepada pembaca.

Dalam buku Pengkajian Puisi Rachmat Djoko Pradopo, seperti dikutip Damayanti (2013: 13) menjelaskan dengan sangat gamblang bahwa prosa dan puisi hanya dibedakan kadar kepadatannya. Bahasa yang padat disebut puisi, sedangkan bahasa yang tidak padat disebut prosa. Berdasarkan kepadatan itulah seringkali prosa dikatakan puitis, yaitu prosa yang memiliki sifat puisi. Dan seringkali juga puisi dikatakan prosais, puisi prosais, puisi yang tidak padat atau menyerupai prosa.

Lihatlah contoh di bawah berjudul Jalan ke Surga karya Joko Pinurbo (2007: 15) berikut ini:
Jalan ke Surga

Jalan menuju kantorMu macet total
oleh antrean mobil-mobil curianku
Jika melihat dalam konteks kepadatan, karya Joko Pinurbo di atas adalah karya puisi. Dua larik puisi di atas sarat akan makna. Bagaimana mungkin mobil hasil curian bisa masuk ke dalam kantor-Mu yang suci itu? Bagaimana mungkin seorang berhati busuk, sering menyengsarakan orang lain, bisa masuk ke dalam Surga-Mu? Bagaimana mungkin seorang yang kotor bisa masuk ke dalam rumah-Mu yang bersih itu? Hanya dua larik puisi, tapi mempunyai banyak makna. Padat bukan berarti kata-kata dipangkas habis sampai tersisa hanya beberapa kata dalam satu larik, tapi padat yang tetap memperhatikan diksi. Puisi yang jeli pada diksi, biasanya akan mempunyai banyak makna.

Bagaimana melihat prosa puitis? Lihatlah prosa Bernard Batubara (2013: 17) di bawah ini:

Dalam pejammu, kau melihat jangkrik-jangkrik itu, hujan yang tak kunjung berhenti, debur kali, dan sebatang pohon tua yang melepaskan daun-daun dari tubuhnya. Kau melihatnya menjadi satu, tertata rapi di atas kanvas. Seperti lukisan yang sangat indah, namun tak terjelaskan. Seperti rasa perih dan kehilangan yang tersamar oleh cinta yang sebentar. Dalam gelap dan sunyi, aku mendengar ceritamu. Aku tersenyum, saat kau bercerita kepadaku segala hal tentang aku.

akankah kita bertemu dalam ricik air kali
di belakang rumah, saat arusnya tak pernah
mengizinkan kita mengalir sebagai daun
yang jatuh dari pohon tua di sisi tubuhnya

akankah kita terjalin sebagai dua arus kali
yang berdebur suaranya sepanjang malam,
ketika derik jangkrik melarang kita bicara
dan pohon tua menjerat kita dengan belit

akarnya

Prosa (cerita pendek) di atas adalah bagian akhir dari cerita pendek berjudul, Lukisan Kali dan Pohon Tua. Itu adalah contoh prosa puitis. Bernard Batubara begitu piawai merangkai kata-kata cerita pendeknya, ia merangkainya dengan bahasa puisi. Adakah rima, metafor, diksi puitis, dan rangkaian kata seperti pada puisi? Tentu ada.

Dalam puisi prosais, M Aan Mansyur (2012: 61) dalam puisi laut kecil, bisa dijadikan contoh:
laut kecil

yang warna dan cahaya di tubuhku, yang bening dan asin di
tubuhnya yaitu masa lampau. yang berkepak di tubuhku, yang
beriak di tubuhnya yaitu masa depan.

dunia bening dan terpisah dari yang harusnya menangkap
maksud dan kecupku. di tubuhnya diperangkap dan senang
berenang-renang. aku terbang dalam air dengan sayap-sayap
berkilau-kilau. kau di luar sedang tersenyum seperti mimpi
menerangi tidur yang semula hampa cahaya.

kecupku mampu menjangkau jari yang kaucelup ke tubuhnya,
jika kau mau. aku mencintai kuku-kukumu yang tumbuh putih,
meski sesekali patah kaugigit, yang mampu jadi cermin bagiku
dan bagi siapapun.

ini laut kecil milikmu. sudah terlalu luas bagi tubuhku.

(sambil menyantap sarapan, atau harapan, aku menulis ini. kau
mungkin sedang memainkan alat-alat dapur sembari lirih
membisikkan lirik-lirik lagu kesukaanmu. di luar kaca
jendela, hanya ada januari dan langit lembab.)
Puisi laut kecil di atas adalah puisi yang kemasannya menggunakan teknik menulis prosa. Di sana kata-kata mengalir, bebas, bahkan cenderung tidak ada pemadatan bahasa puisi. Jika Bernard Batubara mengemas cerita pendeknya dengan bahasa puitik, M Aan Mansyur mengemas puisinya selayaknya cerita pendek (prosa).

Untuk contoh drama berjudul Makna Sahabat (http://ilmu-bermanfaat23.blogspot.com/2013/04/contoh-drama-bahasa-indonesia.html, akses 3 Juni 2014) bisa dilihat di bawah ini:

Suasana pagi cerah di SMPN Pelita Harapan Jakarta mengiringi sebuah kisah keempat sekawan dengan karakter yang berbeda-beda. Namun perbedaan tersebut tidak menjadikan mereka berempat berselisih, tetapi menjadikan mereka mascot dalam persahabatan yang sejati. KARA, MIMI, IGO, dan AFIKA, itulah nama mereka. Mereka selalu kompak dan tampak ceria setiap hari. Jadi tidak heran jika mereka memiliki ribuan teman. Keempat sekawan tersebut berbincang-bincang sambil berjalan di koridor sekolah.

IGO: "Hey sob, sebentar lagi kita UAN nich, pastinya waktu untuk kumpul-kumpul kita akan tersita buat belajar. Gimana nich?"

MIMI: "Iya bener juga Zha, jadwal kita bakalan jungkir balik gara-gara persiapan UAN. Jadwal shopping, ke salon, creambath, manypadhy, dan pastinya jadwal kencan bareng bakalan ancur. Aduch, bisa-bisa rambut aku rontok nich."

KARA: "Gak segitunya kalik, tergantung kita juga. Jika kita rajin menabung ilmu, maka kita tidak akan sibuk belajar."

MIMI: "Ah kamu ini Cha, mentang-mentang anak pintar jadinya sok ceramah. Huh nyebelin."

IGO: "Sudah-sudah jangan berdebat, apa yang di omongin KARA itu ada benarnya juga. Coba dech kalian bayangin, jika kita rajin belajar kita tidak perlu sibuk-sibuk mikirin UAN, itung-itung siap senjata dulu sebelum perang. Enjoy aja lagi, bener gak?"

Jika melihat dan membaca contoh drama tersebut, maka akan terlihat jelas penggunaan bahasanya. Menggunakan bahasa lisan, bahasa sehari-hari. Di bagian awal sudah dijelaskan bahwa bahasa drama lebih dekat dengan bahasa sehari-hari.

Dari keempat contoh di atas, kiranya kita bisa menggambarkan perbedaan puisi dengan karya sastra yang lain. Selain keempat contoh yang saya paparkan di atas, masih banyak contoh-contoh lain yang perlu dielaborasi lagi.


DIKSI DALAM PUISI

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terbaru (2008: 328), diksi diartikan: pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti yang diharapkan).

Dalam proses penciptaan puisi, diksi adalah hal yang paling penting. Penyair atau pencipta puisi terkadang akan terus menyempurnakan puisi-puisi yang ia ciptakan dalam beberapa waktu lamanya. Seperti pada puisi Aku karya Chairil Anwar, di mana pada awalnya dia menggunakan diksi /dari kumpulan yang terbuang/ kemudian dirubah menjadi /dari kumpulannya terbuang/.

Dalam puisi Aku tersebut di atas terlihat bahwa gagasan yang ingin disampaikan oleh pencipta puisi lebih terlihat kuat. Diksi "yang" yang digantikan dengan diksi "nya" merupakan sebuah usaha pencipta puisi untuk membangkitkan imajinasi pembaca dengan lebih jelas. Si binatang jalang atau si aku lirik dalam puisi berjudul Aku tersebut bukan hanya dari sekumpulan orang terbuang, tetapi bahkan, dari kelompoknya sendiri ia sudah terbuang (Damayanti, 2013: 23).

Perhatikan dua contoh puisi Chairil Anwar di bawah ini yang sudah ada perubahan diksi. Yang satu, versi Kerikil Tajam. Yang kedua, versi Deru Campur Debu (Pradopo, 2012: 55).
Semangat

Kalau sampai waktuku
'Ku tahu tak seorang 'kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu!
….
      (Kerikil Tajam, h. 15)

Aku

Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang 'kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu
….
      (Deru Campur Debu, h. 7)
Pada dua judul puisi di atas, satu kata yang terdapat dalam judulnya berubah diksi. Pertama, versi Kerikil Tajam, Semangat. Kedua, versi Deru Campur Debu, Aku. Menurut Pradopo (2012: 55), kata semangat itu mengandung arti perasaan yang menyala-nyala, terasa ada sifat yang propagandis, dan berlebih-lebihan. Sedangkan dalam KBBI terbaru (2008: 1258), kata semangat diartikan sebagai roh kehidupan yang menjiwai segala makhluk, baik hidup maupun mati (menurut kepercayaan orang dulu dapat memberi kekuatan). Dalam kata aku terkandung perasaan yang menunjukkan kepribadian penyair pada semangat individualistisnya.
Kata Ku tahu menunjukkan perasaan pesimistis. Jika kata ini dideklamasikan, nadanya melankolik. Sedangkan kata Ku mau menunjukkan perasaan optimistik, kemauan pribadi yang kuat. Bertolak belakang dengan kata Ku tahu.


KESIMPULAN

Karakteristik bahasa puisi bisa diketahui dengan membedakan antara karya puisi dengan karya sastra yang lain. Diksi adalah alat utama untuk membedakan karya sastra itu sendiri. Jika diksi dalam puisi tidak ada, dalam arti tidak selaras, maka yang terjadi adalah ketiadaan nilai estetik dalam puisi tersebut. Kenapa demikian? Karena untuk mendapatkan kepadatan dan intensitas supaya selaras dengan sarana komunikasi yang lain, maka pencipta puisi atau penyair harus memilih kata-kata dengan secermat-cermatnya.

Penyair atau pencipta puisi, sehari-harinya, harus terbiasa membuka kamus dan tahu makna apa yang terkandung dalam puisi yang akan ia ciptakan. Jika sudah mengetahui, maka penyair atau pencipta puisi tentu bisa membedakan mana karya puisi dan mana yang bukan, dan juga bisa membedakan mana bahasa sehari-hari dan mana bahasa khas puisi.


DAFTAR PUSTAKA

Batubara, Bernard. Kumpulan Cerpen Milana: Perempuan yang Menunggu Senja. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2013.

"Contoh Drama Bahasa Indonesia." http://ilmu-bermanfaat23.blogspot.com/2013/04/contoh-drama-bahasa-indonesia.html (akses 3 Juni 2014).

Damayanti, D. Buku Pintar Sastra Indonesia: Puisi, Sajak, Syair, Pantun dan Majas. Yogyakarta: Araska, 2013.

Pinurbo, Joko. Kumpulan Puisi Jokpin 2006-2013. Tangerang Selatan: Azmo Press, 2013.

Mansyur, M Aan. Tokoh-tokoh yang Melawan Kita Dalam Satu Cerita. Jakarta Selatan: Motion Publishing, 2012.

Nasional, Departemen Pendidikan. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008.

Oktav, Herry. “Unsur-unsur Makna yang Terdapat di Dalam Puisi.” Makalah disampaikan pada Kajian Puisi Komunitas Literasi Alfabét (Kolibét), Tangerang Selatan, 2014.

Pradopo, Rachmat Djoko. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2012.

Sugono, Dendy. Buku Praktis Bahasa Indonesia 1. Jakarta: Pusat Bahasa Depdiknas, 2003.

Waluyo, Herman J. Apresiasi Puisi untuk Pelajar dan Mahasiswa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2002.


* Faliq Ayken, nama pena dari Moh. Faliqul Ishbah, alumnus Al-Inaaroh Buntet Pesantren Cirebon dan anggota istimewa FLAT, Foreign Languages Association, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Read more...

Angin Kecil

>> 19/05/14

Faliq Ayken


Di balik nafasmu,
kudengar suara tersengal-sengal
Angin mulutku mungkin bisa masuk ke mulutmu,
agar nafas kita bersatu, disatukan air liur kehidupan

Matamu terbuka,
Pelan-pelan kaulihat bibirmu di bibirku
Tarikan nafas kita tak beraturan
kadang pendek, kadang panjang

Tiba-tiba matamu mataku tertutup
tak lihat apapun, kecuali merasakan
angin-angin kecil yang keluar
dari pernafasan kita

Dada berdegup kencang,
mulut berteriak panjang


Pondok Petir,
Sabtu, 3 Mei 2014

Read more...

Merapal Kamu

>> 08/05/14

Faliq Ayken


Kamu adalah rapalan doa
tak pernah lupa kuucap
setiap saat

Langit senja
tak mampu kilaukan cahaya
Rintik hujan menutup sinar
yang akan ia berikan kepadamu
: perempuan penuh cinta

Rintik turun dalam hitungan detik,
di sanalah jantung rinduku berbisik

Sebelum pergi,
aku hanya ingin mencium keningmu,
satu kali. Agar jejakku abadi
di dalam ingatanmu

Sesaat saja kuberpikir untuk meninggalkanmu,
sayang, alam semesta dan seisinya
: membenciku tak terkira

Ialah aku: seorang petani yang siap menjaga
ladang hatimu dari hama cinta
yang menghancurkan keindahannya


Pondok Petir,
Minggu, 27 April 2014

Read more...

Seorang Lelaki Penuh Ambisi

>> 27/04/14

Faliq Ayken


Seorang lelaki penuh ambisi
Meninggalkan kampung halaman
Hijrah ke kampung orang, kampung ulama
Mengambil ilmu sebanyak mungkin darinya

Seorang lelaki penuh ambisi
Setiap hari berkutat pada kata-kata
Mengejar waktu agar tak tertinggal
Kala tertinggal, ia akan ditanggalkan
Meninggal dalam kesendirian

Seorang lelaki penuh ambisi
Setiap malam datang menemui Kekasihnya
Dalam ruang penuh cahaya, ia menyendiri di pojok jendela
Mulutnya komat-kamit mengantarkan mantra tolak bala

Seorang lelaki penuh ambisi
Mulutnya masih komat-kamit
Kali ini bukan untuk tolak bala,
tapi untuk setoran nazam-nazam alfiya

Seorang lelaki penuh ambisi
Pulang kampung setelah sekian tahun
Memboyong ilmu-ilmu yang didapat dari kampung orang
Menaruhnya di kamar tidur, rak buku, dan meja makan

Seorang lelaki penuh ambisi
Mengabdikan dirinya untuk masyarakat kampung halamannya
"Ilmuku lebih dalam dari tokoh ulama di sini. Maka dari itulah
aku boleh mengkritik apapun untuk kemajuan masyarakat kita."

Seorang lelaki penuh ambisi
Bingung dan ketakutan, ia tak punya ladang untuk menanam
Ia berakal, menanam pohon-pohon di ladang orang,
tanpa permisi ia terus mencari solusi
"Bagaimanapun aku harus berkembang,
waktuku akan habis dan tubuhku akan layu,
kalau aku mengalah pada guruku sendiri,"
ujar seorang lelaki penuh ambisi dalam hati

"Tenang saja, aku punya banyak dalil-dalil."


Pondok Petir,
Minggu, 20 April 2014

Read more...

Delapan Rindu Bersatu

>> 17/04/14

Faliq Ayken


1.
Ditemani senyum, secangkir teh hangat
dan sepiring kue-kue kecil kausajikan di meja makan,
teman obrolan masa depan.

2.
Matamu adalah gerimis yang membasahi rindu,
kenangan masa lalu yang kering akan cinta-Mu.

3.
Di tepian kolam, sesekali kaumenyuarakan tanda kerinduan,
matamu sembab; menangis sepanjang penantian.

4.
Pada senja, aku bercanda dengan diam di bawah pepohonan
kering. Berharap kaudatang membawa air kehidupan.

5.
Selamat senja, sayang, bolehkah aku menulis sajak-sajak matahari
yang akan terbenam di dalam hatimu? Mungkin di sana ada cahaya
untuk kata-kata yang lupa kueja.

6.
Cobalah menulis sajak cinta, sayang,
agar bahagiamu bisa dibagi
dan luka-lukamu bisa terobati.

7.
Cinta adalah kita; aku dan kamu yang telah berjalan
dan berlari menuju singgasana-Nya.

8.
Dalam keadaan apa pun,
cinta akan menjawab semuanya,
dalam suka dan duka.


Pondok Petir,
Minggu, 13 April 2014

Read more...

Ritual Tengah Malam

>> 11/04/14

Faliq Ayken


Setiap malam, kulihat kaukeluar kamar
menyalakan lampu untuk memastikan masihkah ada cahaya
dalam gelap yang beberapa jam lalu, sebelum kautidur,
lampu-lampu itu tidur tak mendengkur.

Langkahmu menuju ruang belakang: kamar mandi, dapur, dan meja makan
Disebut yang pertama kauada di dalamnya,
mengambil air wudu yang kaugunakan untuk basah-basahan,
membasuh dan mengusap anggota tubuh yang perlu disetubuhi air.

Tengah malam, kaumulai berzikir dan berucap Bismillahirrahmanirrahim
Aku melihat dan mendengarnya dengan mata dan telinga yang terjaga
Kauambil secarik kertas, pulpen, dan pikiranmu yang kauletakkan di atas meja
Kaumerapal kata-kata, "Ritual tengah malam ini adalah nutrisi untukku
dan juga untuk orang-orang yang ingin berteman dengan kata-kata
seperti para pujangga."
"Ritual tengah malam ini adalah tangga awal untuk dipijak
agar kuat melangkah pada pijakan-pijakan tangga selanjutnya."

Pada pertengahan ritual, matamu jatuh di atas meja tanpa kausadari,
ia berkedip sebagai tanda lelah. Kaumengacuhkannya
Kauambil matamu itu dan kauletakkan ke tempat semula
Kaulanjutkan tarian-tarian jemarimu dengan sukacita
Matamu nanar, melihat jemarimu tanpa beban bergoyang ke kiri ke kanan
Sampai azan subuh berkumandang, kauberhenti.

Melanjutkan perjalanan!


Pondok Petir,
Minggu, 6 April 2014

Read more...

Cermin Mimi Aya

>> 03/04/14

Faliq Ayken


Apa kabarmu, sayang, masihkah kauingat nasihatku
waktu kutitipkan cermin kesayanganku kepadamu?
Bagaimana rasanya becermin?
Apakah kau telah mengetahui dirimu sendiri,
saat cermin itu tiba-tiba retak saat kautatap?

Setiap malam sebelum aku dijemput mimpi
aku berdiri di depannya sambil mengedipkan mata,
terkedip-kedip seperti matamu sebelum tidur dalam tafakur keabadian
Dijemput Kekasihmu yang sudah lama kaunantikan
Ialah Mimi Aya, perempuan yang tak pernah menyerah memberikan arah
kala aku terjebak hiburan-hiburan jalanan
Ialah kau, Ibu yang tak suka anak-anaknya mencuri dan mencari
cermin-cermin lain sebelum ilmu cermin itu dihabiskan

Cerminmu adalah alat yang nikmat untuk kutatap
setiap pagi, siang, malam, bahkan aku mati
menatapmu di ruang harum penuh bunga melati

Mimi Aya, saat becermin aku menemukanmu di dalamnya
Aku menciummu, memelukmu, sampai cermin itu pecah terbelah dua
"Allah adalah tujuan yang harus kauperjuangkan dengan caramu,"
katamu sebelum cermin itu kausambung menjadi satu
Semesta ini, cermin yang kautitipkan kepadaku


Pondok Petir,
Minggu, 30 Maret 2014

Read more...

Jenis Puisi Indonesia Dilihat dari Media Pengungkapan: Konvensional (Bahasa) dan Konkret (Rupa)

>> 25/03/14

Faliq Ayken*


Ada empat makalah kajian puisi yang kaitannya sangat erat satu dengan yang lain. Pertama, makalah yang disampaikan oleh Oky Primadeka pada 26 Januari 2014 dengan judul, “Pengertian, Hakikat, dan Perkembangan Puisi di Indonesia”. Kedua, makalah yang disampaikan oleh Yuni Budiawati pada 9 Februari 2014 dengan judul, “Jenis Puisi Indonesia Dilihat dari Periode: Puisi Lama, Puisi Modern, dan Puisi Mutakhir”. Ketiga, makalah yang disampaikan oleh Herry Oktav pada 9 Maret 2014 dengan judul, “Jenis Puisi Indonesia Dilihat dari Struktur: Puisi Terikat, Puisi Bebas, dan Puisi Inkonvensional”. Kaitannya adalah pada isi pembahasan masing-masing. Meskipun berbeda, tapi ada titik persamaan yakni perkembangan puisi di Indonesia.

Pada pembahasan kajian puisi kali ini, ada kaitan yang erat dari pembahasan sebelumnya yaitu tentang struktur fisik dan struktur nonfisik (batin) dalam puisi. Kaitannya masuk ke pembahasan media pengungkapan konvensi bahasa puisi. Puisi konkret, pada pembahasan sebelumnya ada dalam struktur puisi inkonvensional, masuk ke pembahasan setelahnya, yakni konkret (rupa) puisi.

MEDIA PENGUNGKAPAN

Jika melihat kamus besar bahasa Indonesia terbaru yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan Nasional, maka akan ditemukan arti yang paling selaras dengan konteks ini, yakni alat (Depdiknas, 2008: 892). Sedangkan kata pengungkapan dalam kamus yang sama, diartikan sebagai proses, cara, dan perbuatan mengungkapkan (2008: 1529). Artinya, jika digabungkan, media pengungkapan adalah alat untuk mengungkapkan. Media pengungkapan dalam konvensi bahasa dan konkret (rupa) puisi, berarti alat untuk mengungkapkan kesepakatan-kesepakatan yang ada dalam bahasa puisi dan puisi konkret.

Media diartikan sebagai alat, berarti benda yang dipakai untuk mengerjakan sesuatu. Pertanyaannya, apakah benda yang dipakai untuk mengungkapkan konvensi bahasa puisi dan rupa (konkret) puisi? Apakah konvensi bahasa puisi itu? Dan bagaimana bentuk puisi konkret yang dikatakan penulis sebagai rupa puisi? Ketiga pertanyaan itu adalah rumusan masalah pada pembahasan ini.

KONVENSI BAHASA PUISI

Arti kata konvensional yang digunakan pada judul di atas adalah sebagai konvensi (kesepakatan) umum. Sedangkan konotasi leksikal (makna menurut kamus) kata konvensi adalah permufakatan atau kesepakatan (Depdiknas, 2008: 730). Yang pertama menjadi kata sifat dan yang kedua menjadi kata benda. Bahasa diartikan sebagai sistem lambang bunyi yang arbitrer (manasuka), yang digunakan oleh suatu anggota masyarakat untuk bekerjasama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri (Depdiknas, 2008: 116). Arti puisi adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait (Depdiknas, 2008: 1112).

Hasanuddin W.S. (2012: 65) menyatakan bahwa bahasa puisi (sajak) adalah bahasa yang dihasilkan dari kristalisasi pengalaman, perasaan, dan pikiran yang menyatu erat dengan obsesi. Kemudian dikonkretkan oleh penyair dengan menggunakan bahasanya. Bahasa puisi tidak sama, bahasa puisi mempunyai kekhasan tersendiri, dan pengucapan di dalam puisi tergantung pada penyair yang membacakannya. Maka dari itu, antara satu puisi dengan puisi yang lain ditemukan pola pengucapan yang berbeda. Pola perbedaan pengucapan inilah yang dinamakan dengan bahasa khas puisi.

Hal-hal yang menyangkut bahasa puisi yang telah –dengan sendirinya– disepakati oleh para penyair, meskipun tak semuanya, sebagai  berikut (WS, 2012: 67).
  1. Kosakata. Menurut Muljana (seperti dikutip Pradopo, 2012: 51), baik tidaknya bahasa tergantung pada kecakapan sastrawan (penyair) dalam mempergunakan kata-kata. Dan segala kemungkin di luar kata tak dapat dipergunakan, misalnya mimik, gerak, dan sebagainya. Kehalusan perasaan penyair dalam mempergunakan kata-kata sangat diperlukan. W.S. Rendra dalam salah satu ceramahnya mengatakan bahwa ia menganjurkan para penyair untuk selalu melihat arti kata dalam kamus, seperti yang ia lakukan dengan tekun untuk mendapatkan arti yang setepat-tepatnya. Hal itu tidak berarti bahwa bahasa serta kata-katanya tidak sama dengan bahasa masyarakat pada umumnya. Seorang penyair dapat juga mempergunakan kata-kata yang sudah mati, namun harus dapat menghidupkannya kembali. Misalnya dalam sajak “Berdiri Aku” karya Amir Hamzah, mempergunakan kata-kata marak dan leka yang tidak pernah kedengaran lagi dalam kata-kata sehari-hari:
    Benang raja mencelup ujung
    Naik marak menyerak corak
    Elang leka sayap tergulung
    Dimabuk warna berarak-arak
    Penggunaan kata-kata bahasa sehari-hari dapat memberi efek realistis, sedangkan penggunaan bahasa yang indah dapat memberi efek romantis (Pradopo, 2012: 51-53).
  2. Pemilihan Kata. Pradopo (2012: 54) menyebutkan bahwa pemilihan kata dalam puisi (sajak) disebut diksi. Ia menambahkan, diksi itu untuk mendapatkan kepuitisan, untuk mendapatkan nilai estetik. Menurut Altenbernd (seperti dikutip Pradopo), untuk mendapatkan kepadatan dan intensitas supaya selaras dengan sarana komunikasi puitis yang lain, maka penyair memilih kata-kata dengan secermat-cermatnya. Penciptaan puisi adalah hal yang paling menitikberatkan pada diksi. Begitu sakralnya puisi, terkadang penyair akan terus menyempurnakan sebuah puisi dalam beberapa waktu lamanya. Seperti pada puisi “Aku” karya Chairil Anwar, pada awalnya ia menggunakan diksi /dari kumpulan yang terbuang/ kemudian dirubah menjadi /dari kumpulannya terbuang/ (Damayanti, 2013: 23).
  3. Pengimajian. Adalah kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman inderawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Pengimajian dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji rasa (taktil). Pengimajian menjadikan pembaca seakan-akan melihat, mendengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair (Damayanti, 2013: 19). Membaca puisi-puisi imajis dibutuhkan pengalaman yang cukup luas atau paling tidak bisa mengimajinasikan kata-kata yang tertulis dalam puisi. Mari lihat puisi “Asmaradana” karya Subagio Sastrowardoyo yang bercerita tentang Sita yang ada pada cerita Ramayana. Berikut adalah contoh puisinya:
    ASMARADANA

    Sita di tengah nyala api
    tidak menyangkal
    betapa indahnya cinta berahi

    Raksasa yang melahirkannya ke hutan
    begitu lebat bulu jantannya
    dan sita menyerahkan diri

    Dewa tak melindunginya dari neraka
    tapi Sita tak merasa berlaku dosa
    sekedar menurutkan naluri

    Pada geliat sekarat terlompat doa
    jangan juga hangus dalam api
    sisa mimpi dari senggama
    (Subagio Sastrowardoyo, Keroncong Motinggo: 89)
  4. Rima dan Irama. Rima atau persamaan bunyi adalah salah satu unsur pembentuk irama, namun irama tidak hanya dibentuk oleh rima. Baik rima maupun irama, keduanya menciptakan efek musikalisasi pada puisi, yang membuat puisi menjadi indah dan enak didengar meskipun tanpa dilagukan. Ada beberapa jenis rima, yaitu: rima sempurna (persamaan bunyi pada suku kata terakhir); rima tak sempurna (persamaan bunyi yang terdapat pada sebagian suku kata terakhir); rima mutlak (persamaan bunyi yang terdapat pada dua kata atau lebih secara mutlak atau suku kata sebunyi); rima terbuka (persamaan bunyi yang terdapat pada suku kata akhir terbuka atau dengan vokal sama); rima tertutup (persamaan bunyi yang terdapat pada suku kata konsonan); rima aliterasi (persamaan bunyi yang terdapat pada bunyi awal kata pada baris yang sama atau baris yang berlainan); rima asonansi (persamaan bunyi yang terdapat pada asonansi vokal tengah kata); dan rima disonansi (persamaan bunyi yang terdapat pada huruf-huruf mati atau huruf konsonan (Damayanti, 2013, 36-37). Puisi “Doa” karya Chairil Anwar berikut ini adalah salah satu contoh bentuk rima akhir (Waluyo, 2002: 7).
    Tuhanku
    Dalam termangu
    Aku masih menyebut namaMu

    Biar susah sungguh
    Mengingat Kau penuh seluruh
    …………….....
    Tuhanku
    aku hilang bentuk
    remuk
    ………..
    Sedangkan irama dalam kaitannya dengan bahasa puisi adalah pergantian turun naik, panjang pendek, keras lembut ucapan bunyi bahasa dengan teratur. Irama adalah ritme, artinya gerakan yang teratur, terus-menerus tidak putus-putus (Pradopo, 2012: 40). Atau dengan bahasa yang lain, irama adalah intonasi. Cara yang tepat untuk melatih irama dalam pembacaan puisi, dengan mendaklamasikannya. Irama puisi bisa dinikmati, jika pembaca puisi bisa menikmati kata-kata yang ada dalam puisi yang dibacakannya.
  5. Gaya Bahasa. Secara singkat dapat dikatakan bahwa gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa). Sebuah gaya bahasa yang baik harus mengandung tiga unsur: kejujuran, sopan-santun, dan menarik (Keraf, 1985: 113).  Menurut Tarigan (2009: 5), ragam gaya bahasa terbagi menjadi empat kelompok, yaitu: perbandingan (perumpamaan, metafora, personifikasi, depersonifikasi, alegori, antitesis, pleonasme/tautologi, perifrasis, prolepsis atau antisipasi, dan koreksio atau epanortosis); kedua, pertentangan (hiperbola, litotes, ironi, oksimoron, paronomasia, paralipsis, zeugma dan silepsis, satire, inuendo, antifrasis, paradoks, klimaks, antiklimaks, apostrof, anastrof atau inversi, apofasis atau preterisio, histeron proteron, hipalase, sinisme, sarkasme); ketiga, pertautan (metonimia, sinekdoke, alusi, eufemisme, eponim, epitet, antonomasia, erotesis, paralelisme, elipsis, gradasi, asindeton, polisindeton); dan keempat, perulangan (aliterasi, asonansi, antanaklasis, kiasmus, epizeukis, tautotes, anafora, epistrofa, simploke, mesodilopsis, epanalepsis, anadiplosis). Keempat ragam gaya bahasa tersebut hanya saya tulis, tidak berdasarkan artinya, untuk lebih mudah memahami bagian mana yang termasuk dalam konvensi bahasa puisi. Sedangkan gaya bahasa (majas) yang sering digunakan yang digunakan oleh banyak penyair, menurut Hasanuddin W.S. (2012: 107) adalah perbandingan, personifikasi, metafora, dan hiperbola. Selain itu, para penyair sering menggunakan cerita-cerita bermajas, antara lain: alegori, parabel, dan fabel. Berikut ini adalah salah satu contoh gaya bahasa pertentangan, satire. Uraian yang (harus) ditafsirkan lain dari makna asalnya disebut satire. Contoh puisi “Peluru Pertama” karya Subagio Sastrowardoyo (Tarigan, 2009: 72).
    PELURU PERTAMA

    Waktu peluru pertama meledak
    Tidak ada lagi hari minggu atau malam istirahat.
    Tangan penuh kerja dan mata berjaga
    mengawasi pantai dan langit yang hamil oleh khianat.
    Mulut dan bumi berdiam diri. Satunya suara hanya teriak nyawa.
    yang lepas dari tubuh luka,
    atau jerit hati mendendam mau membalas kematian.
    Harap terjaga. Kita memasuki daerah perang
    Kalau peluru pertama sudah meledak
    Kita harus paling dulu menyerang
    dan mati atau menang.
    Mintalah pamit kepada anak dan keluarga dan bilang: Tidak ada lagi
    waktu untuk cinta dan bersenang. Kita simpan kesenian dan budaya di
    hari tua. Kita mengangkat senjata selagi muda
    dan mati atau menang.
    (Jassin, 1986: 375)
  6. Tata Bahasa. Adalah kumpulan kaidah tentang struktur gramatikal bahasa (Depdiknas, 2008: 1410). Ada tipe penyair yang tidak patuh pada gramatikal bahasa puisi, bukan karena ia tak mampu, melainkan karena kebutuhan puisi yang ia tulis agar puisi itu menjadi estetis. Menurut Hasanuddin W.S. (2012: 115) penyalahgunaan ketatabahasaan justru disengaja oleh para penyair untuk menimbulkan kesan kepuitisan. Kebebasan penyair untuk memperlakukan bahasa sebagai bahan puisi dalam istilah kesusastraan dikenal sebagai licentia poetica. Yang dimaksud dengan licentia poetica ialah kebebasan seorang sastrawan untuk menyimpang dari kenyataan, dari bentuk atau aturan konvensional, untuk menghasilkan efek yang dikehendaki (Sudjiman, 1993:18). Ada hubungan antara bahasa puisi dan licentia poetica. Licentia poetica dapat diartikan sebagai adanya dispensasi bagi sastrawan (penyair) untuk memilih cara penyampaian pengalaman batinnya. Penyair dapat memilih cara penyampaian dengan tiga cara, yaitu: pertama, mengikuti kaidah bahasa secara tradisional konvensional; kedua, penyair memanfaatkan potensi bahasa secara kreatif namun masih dalam batas konvensi bahasa; dan ketiga, penyair menyimpang dari konvensi bahasa yang berlaku. Apapun cara penyampaian yang dilakukan pada dasarnya bertujuan memunculkan efek tertentu yang tidak diperoleh dengan cara lainnya. Dapat saja penyair menggunakan salah satu cara dari ketiga cara tersebut atau dua dari ketiga cara itu atau bahkan ketiga-tiganya digunakan dalam sebuah puisi.  (Nurhayati, http://nurhayatibizzy.blogspot.com/2012/01/bahasa-puisi-dan-kaitannya-dengan.html, akses 15 Maret 2014). Bagaimana dengan puisi konkret atau rupa puisi? Uraian tentang licentia poetica poin ketiga adalah isi pembahasannya.
PUISI KONKRET ATAU RUPA PUISI

Jika melihat kajian puisi sebelumnya, puisi konkret masuk ke dalam pembahasan puisi inkonvensional. Puisi inkonvensional tentu tidak sama dengan puisi konvensional. Kalau pola puisi konvensional dalam bahasa puisi mengikuti aturan, maka puisi inkonvensional kebalikannya, tidak mengikuti aturan. Konvensi bahasa puisi yang telah diuraikan di atas adalah bentuk aturan dari puisi konvensional.

Puisi konkret, menurut Elin (seperti dikutip Oktav, Makalah, 2014), adalah puisi yang menitikberatkan pada bentuk grafis yang disusun mirip dengan gambar. Mantra, Mbeling, dan Puisi Konkret adalah tiga hal yang masuk dalam kategori puisi inkonvensional. Penyair dalam kategori ini –yang paling populer– adalah Sutardji Calzoum Bachri. Kata-kata terakhir dalam kredo puisinya, ia menyatakan: “Menulis puisi bagi saya adalah membebaskan kata-kata, yang berarti mengembalikan kata pada awal mulanya. Pada mulanya adalah kata. Dan kata pertama adalah mantera. Maka menulis puisi bagi saya adalah mengembalikan kata kepada mantera” (Purba, 2010: 17). Jika melihat definisi yang dikemukakan oleh Elin tersebut di atas, puisi konkret berarti penyempurna dari puisi mantra dan puisi mbeling. Puisi mantra dicetus dan digerakkan oleh Sutardji Calzoum Bachri, sedangkan puisi mbeling oleh Remy Sylado.

Berikut ini adalah lampiran puisi konkret karya Sutardji Calzoum Bachri dan Remy Sylado, puisi-puisi yang tak patuh pada aturan-aturan konvensi bahasa, yaitu:
RI SATU

kepala                                       kepala
           kepala   kepala   kepala
kepala        kepala   kepala        kepala
         kepala     kepala      kepala
                 kepala      kepala
kepala  kepala   kepala  kepala  kepala
          kepalakepalakepalakepala
                    kepalakepala
                     BANYAK

                         tapi
                        cuma
                         satu
                       kepala
                   paling kepala
                    1978
                    (Sylado, 2004: 120)

TRAGEDI WINKA & SIHKHA

kawin
    kawin
        kawin
            kawin
                kawin
                          ka
                         win
                       ka
                  win
                ka
           win
         ka
   win
 ka
winka
     winka
         winka
             sihka
                 sihka
                     sihka
                            sih
                           ka
                       sih
                    ka
                sih
             ka
          sih
       ka
   sih
ka
   sih
       sih
           sih
                sih
                     sih
                          ka
                              Ku
                              (Sutardji Calzoum Bachri, O, Amuk, Kapak: 38)

KESIMPULAN

Alat untuk mengungkapkan bahasa puisi tentu harus melihat konvensi bahasa puisi. Konvensi bahasa dalam perpuisian di Indonesia, tentu menggunakan bahasa Indonesia. Karena itu adalah kesepakatan yang sudah terbangun dari bahasa itu lahir. Tidak mungkin kita berbicara puisi Indonesia lantas dengan menggunakan bukan bahasa Indonesia. Benar apa yang dikatakan Edmund Husserl bahwa bahasa adalah kesepakatan-kesepakatan. Menunjuk meja belajar, sebagai contoh, tentu akan menunjuk pada sesuatu berkaki empat, berbahan kayu, dan bisa untuk membaca dan menulis.

Kesepakatan-kesepakatan bahasa bisa dilanggar karena ada kesepakatan-kesepakatan baru yang timbul. Kesepakatan-kesepakatan bahasa itu akan dilanggar lagi dan menciptakan kesepakatan-kesepakatan baru lagi. Dan seterusnya. Tapi yang jelas, untuk menciptakan kesepakatan-kesepakatan bahasa, membutuhkan penafsir atau pembaca untuk menyepakati apa yang telah diciptakannya. Dan itu akan terjadi setelah memakan waktu yang lama.


DAFTAR PUSTAKA

Damayanti, D. Buku Pintar Sastra Indonesia Puisi, Sajak, Syair, Pantun dan Majas. Yogyakarta: Araska, 2013.

Nasional, Departemen Pendidikan. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008.

Nurhayati. "Bahasa Puisi dan Kaitannya dengan Licentia Poetica." http://nurhayatibizzy.blogspot.com/2012/01/bahasa-puisi-dan-kaitannya-dengan.html (akses 15 Maret 2014).

Oktav, Herry. "Jenis Puisi Indonesia Dilihat dari Struktur: Puisi Terikat, Puisi Bebas dan Puisi Inkonvensional." Makalah disampaikan  dalam Kajian Puisi Komunitas Literasi Alfabét, Ciputat, 2014.

Pradopo, Rachmat Djoko. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2012.

Purba, Antilan. Sastra Indonesia Kontemporer. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2010.

Sylado, Remy. Puisi Mbeling. Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), 2004.

Tarigan, Henry Guntur. Pengajaran Gaya Bahasa. Bandung: Angkasa, 2009.

Waluyo, Herman J. Apresiasi Puisi untuk Pelajar dan Mahasiswa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2002.

W.S., Hasanuddin. Membaca dan Menilai Sajak Pengantar Pengkajian dan Interpretasi. Bandung: Angkasa, 2012.


* Faliq Ayken, nama pena dari Moh. Faliqul Ishbah, alumnus Al-Inaaroh Buntet Pesantren Cirebon dan anggota istimewa FLAT, Foreign Languages Association, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Read more...

Gila Hormat

>> 24/03/14

Faliq Ayken


           gila kuasa
                      gila tepuk tangan
                                 gila eksistensi
                                            tak gila esensi
                                                       esensi gila
                                           lawan malas
                      tolak ingin dihargai
           ini esensi eksistensi
ingin dihargai
           berapa hargamu?
                      murah atau mahal?
                                 itu masuk akal atau banal?
                                            gila saja terus
                                                      bawa cermin
                                                                  hormat di depannya
                                                                             pasti tambah gila
                                                      sudah hormat pada dirimu sendiri?
                                                                 bagaimana pendapatmu?
                                                                 apa ada caci maki?
                                           GILA HORMAT! BANGSAAAT!
                                GILA HORMAT! BANGSAAAT!
                     GILA HORMAT! BANGSAAAT!
                                      caci maki saja terus
                                                bercermin terus
                                                             jangan berhenti
                                                                        awas kacanya mati


                                                                                                Pesanggrahan Ciputat,
                                                                                                Minggu, 16 Maret 2014

Read more...

Sepatu Murah Meriah

>> 15/03/14

Faliq Ayken


Jangan kaubuang sepatuku hanya karena kaujijik melihatnya
Sepatu itu kubeli dengan keringat yang kuperas di jalan cita-cita
Sehari semalam kupakai untuk berkeliling kata demi kata
Memungut huruf yang berserakan di jalanan gramatika

Kalau harga sepatuku kaubilang murah meriah,
kukatakan itu hanya pemaknaan saja
Kalau kata-kata yang kutulis kaubilang tak bermakna,
kukatakan yang tak bermakna adalah makna

Sepatu yang kaupakai sama dengan sepatu yang kupakai
Huruf-huruf yang kaurangkai sama dengan huruf-huruf yang kurangkai
S-e-p-a-t-u, a-b-c-d-e-f-g-h-i-j-k-l-m-n-o-p-q-r-s-t-u-v-w-x-y-z
Abjad yang kaugunakan pada kata yang kaupilih adalah sama denganku
Bukankah pada awalnya demikian?

Uangmu sama dengan uangku
Kecuali kalau uangmu uang palsu
Huruf-hurufmu sama dengan huruf-hurufku
Kecuali kalau kaubuta huruf

Aku pernah membaca kata-kata
Seribu langkah berawal dari satu langkah
Semestinya kita menulis kata-kata
Seribu kata berawal dari satu kata


Ciputat,
Minggu, 9 Maret 2014

Read more...

Duduk di Tepi Laut

>> 03/03/14

Faliq Ayken


Gerakan air laut yang turun naik mendatangiku berulang kali
Aku menderu-deru saat ombak itu memecah pantai
Pikiranku mengombak seketika, berdebur tak karuan
menikmati gelombang keindahan di tepi lautan

Angin berdesir dan aku berdesis pada butiran pasir
"Dingin adalah kenikmatan yang bisa menghangatkan,
ketika kaudatang memelukku tanpa kemunafikan."
Aku terlentang di atas pasir putih yang menyimpan kerinduan
"Barangkali hanya di pantai ini, sayang, rinduku menjelma angin
yang mendinginkanmu dari panas kebencian."
Menggumamkan namamu adalah salah satu cara
mengabarkan rindu yang bernada, untukmu; di sana

Dingin pantai ini membuatku rindu pada pelukan itu
Pelukan kehangatan yang menahbiskan kasih sayang
Mendiamimu dalam pikiran, memelukmu dalam kenangan
adalah dua hal yang tak bisa kutaklukkan


Pondok Petir,
Minggu, 2 Maret 2014

Read more...

Pohon Jambu Depan Kamar

>> 28/02/14

Faliq Ayken


Pohon jambu depan kamar kita begitu rimbun
Reranting pohonannya bercabang kuat, lebat
Saat pintu kita buka, angin masuk menyejukkan

Ketika kita lapar dan sungkan keluar kamar
Buah-buah pohon itu kita ambil dengan mata nanar
Buah-buah pohon itu kita makan bergantian

Buah jambu setiap hari jatuh depan pintu
Kita lupa mengambil dan memakannya
Saat itu kita sedang alpa bersyukur bahwa
pohon depan kamar adalah sahabat mengingat-Nya

Sekarang semua itu hanya kenangan yang tak mungkin kita temukan
Pohon yang sering kita sapa, kini ditebang orang iri melihat keintiman kita
Pohon jambu yang dulu rimbun, kini meranggas, kering daunannya
Kamar yang dulu sejuk kini gersang, panas tanpa angin menyejukkan

Lambat laun, akar-akar pohon itu masuk ke dalam tubuh kita
tanpa kata-kata


Pondok Petir,
Minggu, 23 Februari 2014

Read more...

Tiga Jendela

>> 13/02/14

Faliq Ayken


Waktu sepi, pelan-pelan kubuka pintu kamar
Di dalam banyak suara-suara terdengar samar
Kubawa masuk tubuh dan rasa ingin tahuku
Pandanganku berhenti pada tiga jendela itu

Jendela pertama kubuka, masuk ke dalam
Ruangannya besar penuh tanda-tanda
Kamar ada: fisika metafisika

Jendela kedua kubuka pelan-pelan
Kulihat dengan tatap penuh pertanyaan
Ruangan ini begitu luas, banyak jebakan
Sebagai alat berpikir, kusiapkan akal agar tak banal
Kamar pengetahuan: empiris rasional

Jendela ketiga kubuka dengan nilai-nilai
Tempat belajar bagaimana bersikap
Tempat belajar bagaimana bermasyarakat
Ujung seluruh pengetahuan yang ada
Kamar nilai: etika estetika

Pintu kamar kututup dengan tenang
Kutetapkan menetap di dalamnya
Bersama tiga jendela


Ciputat,
Minggu, 9 Februari 2014

Read more...

Terang Benderang

>> 09/02/14

Faliq Ayken


Yang paling kuingat dari matahari
adalah sinarnya sadarkanku dari mimpi
Setiap pagi, ia menyapaku dengan kata-kata
"Dirikanlah salat selagi kaumasih ada."

Kubergegas berdiri menghadap-Nya
Kududukkan gagasan-gagasan untuk ditata
Pada kata yang gelap semakin melindap
Pada kata yang terang semakin benderang

Kuberjalan ikuti jalan ke tujuan
Berjualan kata-kata: merapal mantra yang sudah dipesan
Setelah sampai, kurapalkan mantra-mantra itu dengan lantang
"Besok pagi, kaurapal mantra lanjutan ini dengan tenang.
Pelan-pelan."

Kubergegas pulang, merapal kembali mantra lanjutan
Matahari menungguku di rumah keabadiannya
Kata-kata gelap, tak melindap
Ia terang, penuh cahaya, semakin benderang
Mantra-mantra yang kurapal pelan-pelan
sampai ke tujuan: surga Ibu


Ciputat,
Minggu, 2 Februari 2014 

Read more...

Aliran Kopi

>> 28/01/14

Faliq Ayken


Pada tengah malam aku melihatnya penuh tanya
Mengapa ia selalu bangun dan langsung menuju dapur?
Apakah di sana ia akan menemui kekasihnya?
Atau hanya ingin bermeditasi melanjutkan tafakur demi tafakur?

Setelah kulihat, kutemukan jawaban tanpa kepastian
Di tangan kirinya ada secangkir kopi imajinasi
Di tangan kanannya, air puisi segera dituangkan
"Aku ingin kau yang mengaduk kopi ini," katanya dengan santai
Minumlah segera. Untuk apa? Untuk luka-lukamu yang belum terobati

Tegukan pertama tersesat, alirannya tersendat
Puisi-puisiku tak mengalir dengan cepat
Katanya, "Tanpa kopi, secangkir imajinasi tiada puisi."
"Malam dan secangkir kopi adalah sahabat paling hangat
untuk menemanimu berpuisi."

Lagi-lagi kopi, puisi-puisi tak basa-basi
Lagi-lagi puisi, luka-luka terobati


Ciputat,
Minggu, 26 Januari 2014

Read more...

Menunggumu

>> 21/01/14

Faliq Ayken


Sudah sebulan aku tak bertemu air
Mungkin langit sedang mendidikku dengan cara menyiksa
Atau ia sedang dididik Tuhan untuk tak boros menurunkannya

Setiap pagi, siang, dan malam aku kehausan
Tanah sebagai sahabat setia, kekeringan

Tapi Tuhan, akarku kuat menjaga tubuhku yang bau
Setiap saat aku melobi bumi agar tak meninggalkanku
"Kita sedang dididik agar kuat," kataku kepadanya
"Mungkin ada sikap kita yang Ia tak suka," jawabnya kepadaku

Kali ini tubuhku tak lagi bau
Setiap hari, air langit turun
Daun-daunku lambat laun menjadi rimbun

Di bangku taman, ada seorang lelaki menulis dua larik puisi:
"Di bawah pepohonan rimbun, kududuk di bangku kenangan.
Berteman sepi dan rinai hujan."
"Aku menunggumu di sini;
Dari pohon gundul tanpa daun sampai tumbuh rimbun.
Datanglah, sayang, temui aku di bangku taman."

Hujan datang,
Membawa air kerinduan
Kami basah, penuh kebahagiaan


Pondok Petir,
Minggu, 19 Januari 2014

Read more...

  © KOLIBÉT Komunitas Literasi Alfabét by Ourblogtemplates.com 2014

Log In