Jejak Kaum Cukong

>> 14/03/14

Herry Oktav


Gundukan itu tak hanya diraba
Tapi diremas, diperas, dihisap
Remasan merata
Perasan mesra, hisapan merangsang
hingga tak tersisa

Berubah jadi ring kaum buruh
jungkir balik bercecer peluh

Remasan penuh kontroversi
Perasan penuh intrik, dibekali bakat akrobatik

Kokok jantan tak lagi terdengar
Hanya bising yang memekak telinga

Diiringi ribuan langkah sepatu
Sepatu-sepatu yang mengilap bagai kilat
Dilapisi gemerlap ambisi-ambisi
Tetap meraja, tetap berkuasa


Ciputat,
Minggu, 9 Maret 2014

Read more...

Langkahmu Ayah

>> 13/03/14

Yuni Budiawati


Tap tap
Langkah itu buatku berlari ke depan pintu
Bukan untuk sebungkus permen atau sekotak kue
Bukan untuk rengekan tambahan jajan
Tapi sebuah pelukan hangat dan kebahagiaan
Dari lengkung senyumnya yang letih menawan

Tap tap
Langkah itu berlari cepat ke arahku
Saat ragaku tak seimbang lalu jatuh
Saat jiwaku rapuh seakan dunia ‘kan runtuh

Tap tap
Langkahnya mantap namun berat
Sepatunya disemir hingga hitam mengkilat
Tangannya memegang lenganku kuat
Menuntunku pada langkah awal yang baru

Tap tap
Tongkat topang kakinya lemah
Mendekatiku dengan langkah payah
Kerutan dan rambut putihnya bertambah
Tapi pelukannya masih sehangat dulu
Lengkung senyumnya masih semenawan dulu

Tap tap
Langkahku mulai goyah
Mengantarkan pada langkahnya yang terakhir
Langkahmu Ayah...


Ciputat,
Minggu, 9 Maret 2014

Read more...

Akan Berkembang

>> 12/03/14

Oky Primadeka


Tak banyak jalan menuju rumah besar
di mana kita bisa cukup tenang tidur bersama istri dan anak
mengendapkan lelah yang ingin kita uraikan
pada selapis kasur dan bantal empuk berselimut
tanpa mengkhawatirkan atap yang mungkin saja bocor
saat hujan datang

Miris memang, kita tinggal di negeri yang katanya surga dunia
Namun ini bukan khayalan
yang semudah membalikkan telapak tangan bisa kita tepiskan
tanpa berhasrat untuk menyimpannya kembali pada file memori ingatan
Atau seperti kertas yang kita lipat-lipat saat masih kanak-kanak untuk membuat
kapal-kapalan
kemudian dengan ikhlas kita hanyutkan ke sungai begitu saja
tanpa menyesalinya, tanpa mempertanyakan kapan kembalinya

Hidup di kota keras memang, seperti mendaki bukit yang tanpa kita tahu kapan
kita akan sampai ke puncak
Kita manut kebutuhan yang justru kadang membuat alpa kewajiban
Kita lelah dalam penat yang ingin kita keluhkan tetapi enggan, untuk apa?

Orang-orang di stasiun kereta api riuh mengaduh
mengeluhkan jadwal pemberangkatan molor, penumpang berjejal sesak
Sebagian dari mereka memakai sepatu yang cukup tega
menginjak kaki orang lain walau tanpa sengaja
Syahdan...
Semua ini, jalan yang kita tempuh ini akan menjadi sebuah kisah
tentang titik, koma, tanda tanya, dan kawan-kawannya
tentang perjalanan kita menyusuri jalan setapak kehidupan
walau lelah, walau penat, akan berkembang


Ciputat,
Minggu, 9 Maret 2014

Read more...

Bayang Semu Sepatu

>> 11/03/14

Khairini Lulut


Kuberjalan di tengah keramaian
Bukan di pasar ataupun di pameran
Bukan pula di kerumunan berkabung pemakaman
Berjalan sendiri tanpa ditemani
Kumenyusuri selasar toko
Dengan etalase berisi berbagai pajangan berharga
Ya, aku berada di mall besar negeri ini

Kulihat sebuah toko yang menarik hati
Bukan toko banyak pelanggan yang elegan
Yang melangkahkan kakiku ke sana
Sepasang benda yang memutuskanku datang padanya
Bukan dan tidak 'hanya'
Memang sepasang benda mengkilau yang terpajang
Sepasang benda yang akan selalu tetap berpasangan
Ya, benda yang tampak kulihat dari jauh adalah sepasang sepatu

Takkan ada arti jika hanya satu tanpa yang lain
Takkan sempurna karena sudah menjadi takdir bagai 'yin dan yang'
bukan dan tidak 'hanya'
Tetapi memang sepasang sepatu
Sepatu kaca bening mengkilau
Siapa pun melihatnya akan teringat kisah Cinderella

Kulihat dan kubayangkan ketika aku mengenakannya
Ke manakah sepatu itu akan membawaku pergi
Akankah sepatu ini mengantarkanku ke sebuah istana megah
dan kutemui seorang pangeran seperti dalam kisah-kisah

dongeng terkenal itu hanyalah lamunan sesaatku
dan aku tersadar ketika masih berdiri mematung
memandang sepatuku di dalam bayangan etalase
sepatu kets usang yang selalu kupakai ke mana pun
ya, sepatu yang sudah membawaku ke berbagai tempat
bukan dan tidak 'hanya'
tetapi sebuah sepatu penuh kenangan yang mengantarku
hingga ke tempat di mana aku bermimpi
menjadi seorang puteri seperti sekarang ini


Ciputat,
Minggu, 9 Maret 2014

Read more...

Rinduku di Sana

>> 07/03/14

Yuni Budiawati


Bau asin tajam menusuk hidung
Gelombang menghempas pasang karang
Rinduku ada di sana

Aku berharap langit memelukku
Deburan ombak sebagai selimut yang mengulumku lembut
Membawaku pada dasar laut dalam

Rinduku menderu berlomba dengan debur ombak
Jeritanku dibawa sang camar terbang
Tapi hatiku di sini
Berdiri di ujung hempasan ombak beralas pasir

Rinduku
Seperti ombak hapus sang jejak pasir
Rinduku
Biarlah lalu, hilang bersama buih
Hening di tengah laut


Ciputat,
Selasa, 4 Maret 2014

Read more...

  © KOLIBÉT Komunitas Literasi Alfabét by Ourblogtemplates.com 2014

Log In