Kangkang Makelar Atas Pinus

>> 06/03/14

Herry Oktav
 

Polah-polah riang melahap sari bumi yang ditinggal gersang
Laut-laut dijarah
Hutan-hutan dijajah
Gunung-gunung dikoyak layak barang usang,
hanya untuk urusan selangkang

Tak lagi terlihat serabut akar
Kini terhampar pagar-pagar yang membentuk cakar
Tercium bau kelakar para makelar
yang biasa kangkangi kaum proletar

Ladang tempatnya membiak
Jadi tempat pembuangan cikal anak
Tersengat lendir-lendir arak
Dicampuri limbah yang berserak

Apa guna kritik, polah-polah tak terusik
Ke mana pendapat mendarat, kalau tak ditimbun pejabat

Pinus diberangus bak barang butut,
dijadikan sarang perkutut


Cibatok,
Sabtu, 15 Februari 2014

Read more...

Sang Penjaga Hidup

>> 05/03/14

Yuni Budiawati


Aku masih terlalu kecil untuk mengerti hidup
Aku bertanya pada ibu mengapa aku harus tumbuh
Katanya kita sabda Tuhan untuk alam
Kita sang penjaga hidup

Aku berusaha untuk hidup
Bumi kuatkan ragaku kokoh
Menopang beratku agar tak rubuh

Aku harus tetap tumbuh
Setiap nafasku adalah matahari
Setiap uratku adalah hujan
Sari-sariku adalah kehidupan

Aku harus tumbuh
Menghijau seperti agungnya laut yang biru
Seperti megahnya jingga saat senja
Seperti kuningnya padi yang berisi

Aku harus tumbuh
Karena aku sang penjaga hidup


Ciputat,
Selasa, 4 Maret 2014

Read more...

Suara Pasir

>> 04/03/14

Oky Primadeka


Kuingat setiap jejak yang entah sengaja atau tidak
menjadi bagian tubuhku yang selalu pasrah
Kuingat setiap petikan suara yang mengendap ruai
untuk kemudian kujadikan sebuah risalah

Tapi siapa aku sebenarnya?
Apakah pawana yang dibiar-lalukan pohon
Apakah hujan yang rinainya luruh bersama hening
Ataukah hanya sebutir nasi yang tak pernah protes kala terlupa

Untuk apa semua ini?
jika suara-suara itu tak pernah berbuah hikmat
Saat malam nanti aku 'kan bersuara melawan sepi
kepada pantai yang bersaksi bahwa aku tak pernah memasalahkannya


Ciputat,
Minggu, 2 Maret 2014

Read more...

Duduk di Tepi Laut

>> 03/03/14

Faliq Ayken


Gerakan air laut yang turun naik mendatangiku berulang kali
Aku menderu-deru saat ombak itu memecah pantai
Pikiranku mengombak seketika, berdebur tak karuan
menikmati gelombang keindahan di tepi lautan

Angin berdesir dan aku berdesis pada butiran pasir
"Dingin adalah kenikmatan yang bisa menghangatkan,
ketika kaudatang memelukku tanpa kemunafikan."
Aku terlentang di atas pasir putih yang menyimpan kerinduan
"Barangkali hanya di pantai ini, sayang, rinduku menjelma angin
yang mendinginkanmu dari panas kebencian."
Menggumamkan namamu adalah salah satu cara
mengabarkan rindu yang bernada, untukmu; di sana

Dingin pantai ini membuatku rindu pada pelukan itu
Pelukan kehangatan yang menahbiskan kasih sayang
Mendiamimu dalam pikiran, memelukmu dalam kenangan
adalah dua hal yang tak bisa kutaklukkan


Pondok Petir,
Minggu, 2 Maret 2014

Read more...

Aku Penyenang

>> 01/03/14

Oky Primadeka


di setiap helaian waktu tersematkan padaku
dahan, ranting, daun, pucuk, bunga, dan buah
di dingin yang dikibaskan malam tetap menjadi seutuhnya aku
dahan, ranting, daun, pucuk, dan buah
aku lupa, sekarang baru kusebut akar, inti

setiap pagi kudengar sepasang burung nuri
elok warna dan merdu suaranya mencuit
aku ingat betul saat mereka dalam gugup mengecup gigit
buahku yang belum ranum
"asem," celetuk mereka
"haha, itu akibat enggan taat pada waktu," ejekku

aku adalah setia yang ditelan sepi
seperti embun yang kehilangan pagi
aku sendiri dalam hening sunyi musim hujan
namun aku sadar aku hidup dalam dekapan
aku belajar tentang erat dan renggang, hangat dan dingin
hingga kuputuskan untuk setia pada sekujur tubuh alam

kutancap niat ke pusat bumi
kuteguhkan diri walau takkan sampai ke langit
kutarikan daun yang mendesau sepanjang pagi
dan kupajang buah kudapan pada etalase alam
silakan, sepuasnya, aku penyenang

esok yang selalu kuigaukan malamnya
selalu tiba dengan sejumput asa
membawa untaian benang-benangnya
kurajut tekun agar indah kain yang 'kan
kupersembahkan, padamu, sekalian tujuan
tak masalah aku mati ditelan sepi
aku penyenang


Ciputat,
Jumat, 14 Februari 2014

Read more...

  © KOLIBÉT Komunitas Literasi Alfabét by Ourblogtemplates.com 2014

Log In